Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 14 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita
Khazanah Islam di Nusantara

Makna Lagu Gundul-Gundul Pacul, Kritik Sunan Kalijaga ke Penguasa

Muhajirin Rabu, 21 September 2022 - 22:00 WIB
Makna Lagu Gundul-Gundul Pacul, Kritik Sunan Kalijaga ke Penguasa
Ilustrasi Sunan Kalijaga (foto: langit7.id)
LANGIT7.ID - Gundul-gundul pacul merupakan lagu rakyat yang amat populer bagi masyarakat Jawa. Biasanya dinyanyikan dengan ceria oleh anak-anak. Namun di balik kecerian lagu gundul-gundul pacul, ada makna tersirat yang berisi kritik kepada penguasa.

Lagu Gundul-gundul Pacul diciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk mengkritik penguasa kala itu, Sultan Demak yaitu Sultan Trenggono.

“Pada masa Sultan Trenggono bertahta, perkembangan Islam mengalami kemajuan yang pesat. Meskipun, dia tidak lepas dari kritik. Sehingga, salah satu kritik yang dilancarkan Sunan Kalijaga kepada Sultan Trenggono diabadikan dalam sebuah lagu yang berjudul Gundul-Gundul Pacul,” kata Salim A Fillah di kanal Pro-You Channel, Rabu (21/9/2022).

Baca Juga: Alasan Walisongo Dakwahkan Islam di Jawa Lewat Budaya

Kala itu, Sultan Trenggono berkunjung ke alun-alun Demak. Sunan Kalijaga lalu mengutus sekelompok anak-anak untuk menyanyikan lagu tersebut di hadapan sultan. Dia ingin mengingatkan kepada sang sultan akan beratnya amanah yang dipikul seorang penguasa.

"Gundul-gundul pacul cul, gembelengan", bunyi awal lirik lagu itu.

Gundul berarti kepala yang diartikan sebagai pemimpin negara. Tapi, raja digambarkan tak lagi memiliki rambut, yang artinya tidak ada lagi mahkota. Sementara pacul merupakan alat pertanian yang bisa digunakan rakyat kecil. Artinya, seorang pemimpin harus melihat kesusahan rakyat.

"Nyunggi-nyunggi wakul kul, gembelengan," bunyi lirik berikutnya.

Baca Juga: Wayang dalam Pandangan Islam, Cara Brilian Sunan Kalijaga Mengislamkan Budaya

Nyunggi-nyunggi wakul
artinya membawa bakul di atas kepala. Ini bermakna seorang pemimpin membawa amanah rakyat sebagai beban dan tanggung jawab.

Namun, setelah membawa amanah itu, bukannya bertanggung jawab tapi justru gembelengan atau sombong, karena merasa sudah menjadi pemimpin berkedudukan tinggi.

Nyunggi-nyunggi wakul maknanya memikul beban yang berat. Wakul artinya tempat nasi yang merupakan simbol hajat rakyat. Petentengan berarti dia malah sibuk petentengan, sehingga wakulnya glimpang atau terguling. Amanah yang diberikan kepadanya itu tumpah,” kata Salim A Fillah.

Baca Juga: Lingsir Wengi Bukan Lagu Horor tapi Tembang Dakwah Sunan Kalijaga, Ini Makna Aslinya

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
berarti bakul terguling, sehingga nasinya tumpah memenuhi halaman. Itu bermakna, saat pemimpin sombong dan petentengan, amanah rakyat (bakul) menjadi jatuh dan sia-sia. Pemimpin dianggap gagal memikul amanah rakyat.

“Amanah itu nyunggi wakul yakni memakmurkan rakyat, melayani rakyat karena sebagai pemimpin negara. Tapi kenapa sibuk petentengan sampai wakulnya ngglimpang, sehingga nasi itu tumpah ruah yang justru tidak bermanfaat, justru kotor dan bahkan dimakan oleh ayam dan sebagainya,” tutur Salim A Fillah.

Ini merupakan salah satu contoh kritik seorang ulama dengan cara elegan. Dia tidak menggunakan kata-kata kasar, tapi mengingatkan melalui karya seni.

Baca Juga: Tembang Lir Ilir, Syiar Sunan Kalijaga Semangati Umat Bangkit dari Keterpurukan

“Itu kritik yang luar biasa dari seorang ulama kepada umara. Cara mengkritik itu istimewa, dengan lagu. Tentu itu bisa dipahami oleh Sultan Trenggono pada masa itu,” ungkap Salim A Fillah.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 14 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:52
Ashar
15:13
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)