Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 10 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Seni Islam: Sejarah, Ketuhanan dan Refleksi Sosial

tim langit 7 Kamis, 30 Maret 2023 - 08:54 WIB
Seni Islam: Sejarah, Ketuhanan dan Refleksi Sosial
Bambang Asrini, kurator seni dan pemerhati isu sosial dan budaya
LANGIT7.ID - , Jakarta - Islam tak dipungkiri memiliki khasanah budaya yang kaya dan agung, tak hanya yang tertera di Kitabullah. Dari masa ke masa masyarakat Muslim sedunia pun di Indonesia memuja keindahan transenden dalam tradisi seni Islam. Sebab karya seni merupakan wakil ‘alam al misal (alam misal), dan alam misal berfungsi menjadi barzakh (perantara) atas ‘al-nasut (alam kemanusiaan) dengan ‘alam al-lahut, yakni semesta ketuhanan.

Tak pelak, seni adalah hasil kreativitas manusia yang memesona inderawi kita. Yang kemudian, mendekatkan diri kita pada dzat-Nya. Bagi cendekiawan Islam, Abu Hammed Al Ghazzali, seni itu semata-mata memperkaya kedekatan kita pada sang Khaliq.

Sementara itu seni Islam bermanifestasi dalam seni rupa terelasi dengan jenis kaligrafi (khat) dan seni hias tetumbuhan. Pada abad ke-16 sampai abad 20, peradaban Eropa juga terinspirasi Islam, terutama pengaruh pelukis seperti Rembrandt (abad 16/17), Delacroix (abad 18/19), sampai Matisse dan Paul Klee serta Wasilly Kandinsky (abad 20). Mereka ini, para seniman kanon utama Eropa yang berhutang utamanya seni pada miniatur Islam, yang mengekspos gaya figuratif, geometri, maupun bentuk-bentuk esensial secara abstraktif arsitektural, distorsi tubuh manusia dan alam yang bersentuhan pula dengan seni Islam di China, Tibet maupun India.

AjaranTassawuflah yang memazmurkan khasanah seni Islam modern yang setara dengan peradaban Barat lainnya berabad-abad kemudian. Kita mengingat, bagaimana sastrawan, cendekiawan juga politisi kampiun Jerman, Johann Wolgang von Goethe sangat memuja Nabi Muhammad SAW di abad ke-19 dengan kitab puisi West-östlicher Diwan yang diinspirasi dari sastrawan Hafiz dari Persia.

Seni Islam Tanah Air

Syiar Islam di Jawa pada abad ke-15 sangat bergelora, yang menakjubkan adalah gejala kegiatan pertukangan, kerajinan, serta penciptaan seni-seni Islam di bandar-pelabuhan utama, juga pusat-pusat pendidikan. Walisongo adalah penghulu para seniman Jawa. Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga adalah local genius pada lapangan kebudayaan. Mereka yang menemukan inovasi-inovasi dalam seni bernafaskan Islam, yang sangat khas Islam Jawa. Gamelan Jawa yang menjadi kontemplatif dan pencak silat juga digubah baru dan dikembangkan menurut asas-asas estetika sufistik.

Sejarah juga mengajarkan pada kita, seni rupa Islam dengan batik. Sebagai misal bahwa batik Mega Mendung dibawa oleh istri Sunan Gunung Jati berdarah Tionghoa bernama Putri Oeng Tien. Motif batik Mega Mendung memiliki arti yang unik bagi setiap penggunanya. Mega merupakan frasa dari awan yang megah dan besar sehingga penggunanya bisa terlihat berwibawa, sedangkan untuk Mendung sendiri memiliki arti tenang dan meneduhkan. Sebagai perbandingan, diluar Jawa, artefak mahkota atau Regalia, yang dalam bahasa Kalimantan Timur adalah Ketopong. Komposisi mahkotanya sangat terpengaruh oleh bentuk-bentuk mahkota Kerajaan Hindu pada masa Kutai kuno (Kutai Martadipura di Muara Kaman). Mahkota yang dikenakan oleh Sultan Muhammad Sulaiman (1845-1899) pada seremoni penganugerahan sebagai raja, adalah bukti kemampuan seni tinggi klasik pengolahan emas abad-abad itu.

Pada perkembangan selanjutnya, seni rupa Islam era modern di Tanah Air, tak hanya menampakkan warisan seni modern dari perkembangan seni Eropa yang kemudian mendunia dan bertemunya dengan khasanah budaya Islam lokal. Terbuka ruang tumbuhnya seni kontemporer Islam, khususnya Islam majemuk yang berciri khas ala Nusantara di Indonesia. Globalisasi memberi energi dengan istilah Glocal, global sekaligus lokal yang terkait dengan sejarah dan kultur-kultur lokal. Dari seni kaligrafi semenjak pelukis legendaris Ahmad Sadali, AD Pirous sampai Said Akram pun beragam bentuk ekspresi non kaligrafi semacam Instalasi, seni perfomans, video dan seni digital dipresentasikan ke publik oleh seniman semacam Tisna Sanjaya, Arahmaiani, Lenny Ratnasari dan generasi muda seniman kontemporer lain.

Seni Islam dan refleksi sosial

Keindahan kemanusiaan dalam seni Islam, sebagai judul esai ini, esensi perwujudannya adalah ekspresi seni dituntut untuk mengejawantahkan persoalan tak hanya dunia dalam diri yang reflektif. Namun, ada energi kontekstual dengan relasi-relasi di luar dirinya, yakni elemen-elemen estetik yang memunculkan kekuatan transformatif.

Ekspresi seni dengan demikian menjadi wahana utama untuk memproyeksikan kekuatan reflektif personal menjadi energi transformasi sosial, seperti karya-karya seni kontemporer dengan objek-objek yang tak hanya berdiam sebagai simbol mati. Namun berkecimpung langsung dengan aktivitas-aktivitas seniman untuk mencari solusi persoalan-persoalan keseharian yang berdimensi ketuhanan yang memancar dalam nilai-nilai kemanusiaan. Seperti pesan-pesan yang mentransmisi isu pengentasan kemiskinan, menolak ketimpangan dan menjunjung keadilan sosial, keberpihakan pada yang tertindas, penegakan hukum, memperkaya pendidikan politik-seni secara langsung di masyarakat, dan lain-lain.

Ramadhan yang kita lalui bersama, sejatinya bukan saja upaya pengendalian nafsu lahiriah yang kita kukuhkan dengan shaum sebulan penuh, agar hati menjadi lembut. Namun, pada saat sama kalimat yang sangat sering dilafalkan oleh Muslim dalam doa-doa dan memulai kegiatan sehari-hari, yakni: Basmalah, mengajarkan juga daya kritis nalar kita sebagai manusia ciptaanNya. Dengan sepenuh hati mengelola “metafora” tentang yang Rahman dan yang Rahim; berarti bukti pula keberpihakan Muslim pada mereka yang lemah dan tertindas dengan kasih dan sayang.

Bukankah, salah satu peristiwa penting di bulan Ramadhan pada era modern di Tanah Air adalah hari pembebasan pada kolonialisme dan Republik baru lahir memberi kesetaraan pada semua orang? Yakni, kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan 9 Ramadan 1364 Hijriah.

Bambang Asrini, kurator seni dan pemerhati isu sosial dan budaya

(adm)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 10 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)