home edukasi & pesantren

Fitnah Kehidupan (Bagian-2)

Kamis, 01 Juni 2023 - 05:00 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
Kisah populer kedua di Surah Al-Kahf adalah kisah pemilik kebun. Kisah ini dimulai dengan ayat: “dan sampaikan perumpamaan dua pria. Salah satunya Kami jadikan baginya kebun-kebun dari anggur,

Kisah tentang dua pria yang berbeda status sosial ini disampaikan secara gamblang dan luas di surah ini, dimulai dari ayat 32 hingga ke ayat 59. Yang lebih menarik lagi adalah bahwa ayat-ayat yang terkait dengan kisah “fitnah dunia” ini kemudian dikaitkan dengan prilaku manusia dalam hidup dunianya, termasuk kelalaian manusia dari “dzikrullah”. Bahkan ayat-ayat terakhir dari rangkaian kisah ini menggambarkan betapa kehidupan ukhrawi sebagai tempat pertanggung jawaban kehidupan masa lalu (dunia) banyak ditentukan oleh bagaimana manusia menyikapi kehidupan dunianya.

Sekali lagi, saya tidak bermaksud menceritakan kembali alur cerita ini. Tapi mencoba menggali makna-makna yang terkandung di dalamnya. Bahwa betapa kehidupan dunia ini, yang pastinya penting, justeru sering melenceng dari yang seharusnya sebagai “jembatan” kebahagiaan ukhrawi menjadi fitnah yang mengantar kepada kebinasaan.

Baca juga:Fitnah Kehidupan (Bagian 1 )

Ada beberapa fakta tentang dunia yang harus kita sadari.

Pertama, dunia itu perlu dan penting. Perlu dan penting karena di sinilah tempatnya menusia menentukan hari depan abadinya. Karenanya dunia disebut “mustaqar” tempat tinggal. Bahkan tempat tinggal yang bercirikan “mataa’ (kesenangan). Realita ini dalam bahasa haditsnya disebut dengan “mazra’ah” atau tempat menanam. Karenanya ungkapan “dunia tidak penting” seringkali disalah pahami dan menyesatkan. Menjadikan sebagian orang Islam malas, dan tidak memiliki motivasi kesuksesan “hasanah” dunianya.

Kedua, walaupun kehidupan ini penting, kenyataan lain yang harus diketahui adalah bahwa dunia “bukan tujuan”. Karenanya ayat tentang dunia sebagai tempat tinggal (mustaqar) diikat dengan peringatan “hingga waktu yang ditentukan” (ilaa hiin). Berbagai ayat maupun hadits mengingatkan akan realita ini. Salah satunya adalah ayat yang populer di Surah Ar-Rahman: “semua yang ada di atas dunia ini berakhir” (faanin). Karenanya dengan segala Urgensinya dunia tetap harus ditempatkan pada tempatnya sebagai jembatan, bukan destinasi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
fitnah kehidupan imam shamsi ali
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya