Esensi Hijrah Itu Perubahan
Tim langit 7
Rabu, 12 Juli 2023 - 14:00 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
Di hari kedua kunjungan saya ke Balikpapan harusnya dijadwalkan khutbah di Masjid Agung Samarinda. Hanya saja karena saya juga dijadwalkan hadir di Universitas Balikpapan siang itu saya minta agar khutbah saya hari itu di Balikpapan saja. Maklum perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda memakan waktu dua jam dengan mobil. Sehingga cukup merepotkan ke Samarinda khutbah lalu kembali lagi mengisi secara di Uniba siang itu juga.
Bapak Walikota yang cekatan segera menelpon pengurus Masjid At-Taqwa, masjid seberang kantor beliau di Balikpapan. Saya pun dijadwalkan khutbah di mesjid itu pada Jumat, 7 Juli. Masjid itu cukup besar dan ramai. Maklum memang bersampingan dengan kantor Walikota Balikpapan.
Khutbah saya kali ini fokus pada urgensi perubahan sebagai esensi yang paling mendasar dari tahun baru Hijrah yang sedang kita peringati. Dengan tema ini saya ingin sampaikan bahwa peringatan tahun baru bukan sekedar memperingati pergantian waktu. Tapi harusnya dipahami makna dan hikmah dari penetapan Hijrahnya Rasul sebagai awal kalender Islam.
Baca juga:Era Sudah Berubah, Lembaga Pendidikan Harus Manfaatkan Perkembangan Iptek
Penanggalan dan Identitas
Salah satu hal yang selalu ditekankan dalam Islam adalah pentingnya umat ini memilki identitas dan jati dirinya. Pergantian kiblat misalnya kembali ke Ka’bah (masjidil Haram) di Mekah dari Masjidil Aqsa di Jerusalem sesungguhnya relevansinya bukan sekedar dalam hal ibadah ritual. Tapi ada penekanan komunal (kolektif) yang sangat penting.
Hal itu dapat disimpulkan dari sejarah perubahan itu. Baik pada konteks keadaan maupun konstalasi kemasyarakatan pada masanya. Keadaan ketika itu menggambarkan keadaan Mekah yang gelap gulita dalam kesesatan dan kesyirikan. Sementara Jerusalem masih digambarkan sebagai pusat nubuwwat (kenabian dan kerasulan). Artinya di sini bukan masalah ritual semata. Tapi ada konteks perubahan situasi kemasyarakatan (komunal).
Bapak Walikota yang cekatan segera menelpon pengurus Masjid At-Taqwa, masjid seberang kantor beliau di Balikpapan. Saya pun dijadwalkan khutbah di mesjid itu pada Jumat, 7 Juli. Masjid itu cukup besar dan ramai. Maklum memang bersampingan dengan kantor Walikota Balikpapan.
Khutbah saya kali ini fokus pada urgensi perubahan sebagai esensi yang paling mendasar dari tahun baru Hijrah yang sedang kita peringati. Dengan tema ini saya ingin sampaikan bahwa peringatan tahun baru bukan sekedar memperingati pergantian waktu. Tapi harusnya dipahami makna dan hikmah dari penetapan Hijrahnya Rasul sebagai awal kalender Islam.
Baca juga:Era Sudah Berubah, Lembaga Pendidikan Harus Manfaatkan Perkembangan Iptek
Penanggalan dan Identitas
Salah satu hal yang selalu ditekankan dalam Islam adalah pentingnya umat ini memilki identitas dan jati dirinya. Pergantian kiblat misalnya kembali ke Ka’bah (masjidil Haram) di Mekah dari Masjidil Aqsa di Jerusalem sesungguhnya relevansinya bukan sekedar dalam hal ibadah ritual. Tapi ada penekanan komunal (kolektif) yang sangat penting.
Hal itu dapat disimpulkan dari sejarah perubahan itu. Baik pada konteks keadaan maupun konstalasi kemasyarakatan pada masanya. Keadaan ketika itu menggambarkan keadaan Mekah yang gelap gulita dalam kesesatan dan kesyirikan. Sementara Jerusalem masih digambarkan sebagai pusat nubuwwat (kenabian dan kerasulan). Artinya di sini bukan masalah ritual semata. Tapi ada konteks perubahan situasi kemasyarakatan (komunal).