Hikmah dari Ibnu Ataa, Anugerah Muncul dari Kegelapan
Muhajirin
Rabu, 20 September 2023 - 14:00 WIB
ilustrasi
Syekh Ahmad Ibn Ata’illah As-Sakandari dalam bukunya Al Hikam pernah mengatakan, “Mungkin awan kegelapan akan melingkupi kalian, sehingga Dia mengenalkan kalian tentang sejauh mana Dia telah menganugerahkan rahmat kepada kalian.”
Penulis Muslim asal Kanada, Dr. Ali Al-Halawani, menguraikan mutiara hikmah tersebut. Dia mengatakan, bisa jadi nafsu dan kesesatan yang serupa dengan kegelapan akan menimpa seseorang, sehingga Allah mengenalkannya kepada cahaya-cahaya yang telah dianugerahkan-Nya kepadanya.
Hal ini akan membuat seseorang meningkatkan rasa syukur ketika dikembalikan kepada cahaya yang telah dijauhkan oleh hawa nafsu. Hal itu juga akan membuat orang tersebut bersemangat untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dari nikmat-nikmat-Nya di setiap waktu.
“Sungguh, tidak ada waktu di mana Allah Ta'ala tidak memiliki nikmat yang harus disyukuri,” ujar Dr Ali dalam tulisannya berjudul ‘Ibn Ataa: Grace Emerges from Darkness!’ di laman About Islam, dikutip Rabu (20/9/2023).
Kegelapan yang dimaksud dalam perkataa Ibnu Ata’illah adalah kegelapan yang ada di dalam hati seseorang, karena melakukan dosa-dosa dan mengikuti hawa nafsu serta keinginan-keinginan yang berdosa.
Seperti yang dinyatakan oleh Ibnu `Ata'illah, semua perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia adalah kegelapan. Sedangkan, perasaan iman yang mendominasi hati dan yang diwakili oleh kecintaan kepada Allah, bertasbih, dan takut kepada-Nya adalah cahaya yang menerangi hati.
Secara alamiah, cahaya tidak dapat hidup berdampingan dengan kegelapan di satu tempat. Jika keduanya bertemu, maka akan muncul perasaan gelisah dan keterasingan di dalam hati seseorang; suatu hal yang dapat menghilangkan perasaan kenikmatan semu dari hati orang yang durhaka.
Penulis Muslim asal Kanada, Dr. Ali Al-Halawani, menguraikan mutiara hikmah tersebut. Dia mengatakan, bisa jadi nafsu dan kesesatan yang serupa dengan kegelapan akan menimpa seseorang, sehingga Allah mengenalkannya kepada cahaya-cahaya yang telah dianugerahkan-Nya kepadanya.
Hal ini akan membuat seseorang meningkatkan rasa syukur ketika dikembalikan kepada cahaya yang telah dijauhkan oleh hawa nafsu. Hal itu juga akan membuat orang tersebut bersemangat untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dari nikmat-nikmat-Nya di setiap waktu.
“Sungguh, tidak ada waktu di mana Allah Ta'ala tidak memiliki nikmat yang harus disyukuri,” ujar Dr Ali dalam tulisannya berjudul ‘Ibn Ataa: Grace Emerges from Darkness!’ di laman About Islam, dikutip Rabu (20/9/2023).
Kegelapan yang dimaksud dalam perkataa Ibnu Ata’illah adalah kegelapan yang ada di dalam hati seseorang, karena melakukan dosa-dosa dan mengikuti hawa nafsu serta keinginan-keinginan yang berdosa.
Seperti yang dinyatakan oleh Ibnu `Ata'illah, semua perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia adalah kegelapan. Sedangkan, perasaan iman yang mendominasi hati dan yang diwakili oleh kecintaan kepada Allah, bertasbih, dan takut kepada-Nya adalah cahaya yang menerangi hati.
Secara alamiah, cahaya tidak dapat hidup berdampingan dengan kegelapan di satu tempat. Jika keduanya bertemu, maka akan muncul perasaan gelisah dan keterasingan di dalam hati seseorang; suatu hal yang dapat menghilangkan perasaan kenikmatan semu dari hati orang yang durhaka.