Pesantren di Garut Hasilkan Herbal yang Berkhasiat Cegah Kanker dan Diabetes
Mahmuda attar hussein
Jum'at, 09 Juli 2021 - 10:10 WIB
Ilustrasi herbal Gentong Mas produk pesantren di Garut. Foto: Langit7/Istock
Pesantren selama ini hanya dikenal sebagai sebuah asrama pendidikan tradisional. Muridnya tinggal bersama untuk belajar seputar agama dan mengaji. Tapi siapa sangka, pesantren di Garut, Jawa Barat ini mampu menciptakan sebuah produk minuman herbal yang digemari, bahkan secara perlahan mulai dikenal secara global.
Gentong Mas, produk minuman herbal yang lahir di pondok pesantren Sadang Lebak, Desa Situsari, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat ini merupakan produk minuman herbal yang memiliki khasiat untuk menghangatkan tubuh. Berbahan utama gula aren, jinten hitam (habbatussauda), dan bahan rempah lain seperti kayu manis, kapulaga, cengkeh, bunga lawang, dan cabe jawa.
Aceng Hasan atau Abah biasa para santri memanggilnya merupakan pemilik dari Gentong Mas ini sendiri. Aceng Hasan menceritakan, awal terbentuk Gentong Mas bisa menjadi pabrik besar, merupakan sebuah perjuangan cita-cita yang tersirat dan tersurat. Tidak mungkin Gentong Mas sebesar ini tanpa ada perjuangan. Dalam perjalanannya, Abah selalu ditemani santrinya yang juga ikut membantu dalam menghasilkan produk minuman herbal ini.
“Ketika saya datang, mungkin di sebuah pesantren itu akan menciptakan sebuah produk yang aman dan akan membantu khususnya bagi para santri atau pun fakir miskin. Sehingga saya pun mempunyai cita-cita, walaupun Gentong Mas ini berasal dari dunia pesantren tapi bisa terasa manfaatnya oleh seluruh dunia,” jelasnya di Youtube Farmakoimaji.
Sementara itu, Wakil Direktur CV Gentong Mas Nur Fahmi Rafsanjani menngisahkan awal mula terciptanya Gentong Mas, para santri didikan Abah pernah memikirkan suatu ide untuk menghasilkan sebuah produk minuman yang bisa bermanfaat kepada umat.
“Ini berangkat dari inovasi para santri yang didukung oleh sang kiai dengan tirakat juga cita-cita yang mulia. Di mana mereka ingin membuat suatu produk yang berkualitas, bermutu serta bermanfaat bagi banyak orang,” ujar Fahmi kepada LANGIT7.
Fahmi menyebutkan, Abah memang selalu berusaha untuk memberikan manfaat kepada orang banyak. Bersama dengan santrinya, Abah memproduksi gula aren di rumahnya sendiri, bahkan sampai kepada pengemasan dan pemasaran pun dilakukan secara mandiri bersama dengan santrinya.
Gentong Mas, produk minuman herbal yang lahir di pondok pesantren Sadang Lebak, Desa Situsari, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat ini merupakan produk minuman herbal yang memiliki khasiat untuk menghangatkan tubuh. Berbahan utama gula aren, jinten hitam (habbatussauda), dan bahan rempah lain seperti kayu manis, kapulaga, cengkeh, bunga lawang, dan cabe jawa.
Aceng Hasan atau Abah biasa para santri memanggilnya merupakan pemilik dari Gentong Mas ini sendiri. Aceng Hasan menceritakan, awal terbentuk Gentong Mas bisa menjadi pabrik besar, merupakan sebuah perjuangan cita-cita yang tersirat dan tersurat. Tidak mungkin Gentong Mas sebesar ini tanpa ada perjuangan. Dalam perjalanannya, Abah selalu ditemani santrinya yang juga ikut membantu dalam menghasilkan produk minuman herbal ini.
“Ketika saya datang, mungkin di sebuah pesantren itu akan menciptakan sebuah produk yang aman dan akan membantu khususnya bagi para santri atau pun fakir miskin. Sehingga saya pun mempunyai cita-cita, walaupun Gentong Mas ini berasal dari dunia pesantren tapi bisa terasa manfaatnya oleh seluruh dunia,” jelasnya di Youtube Farmakoimaji.
Sementara itu, Wakil Direktur CV Gentong Mas Nur Fahmi Rafsanjani menngisahkan awal mula terciptanya Gentong Mas, para santri didikan Abah pernah memikirkan suatu ide untuk menghasilkan sebuah produk minuman yang bisa bermanfaat kepada umat.
“Ini berangkat dari inovasi para santri yang didukung oleh sang kiai dengan tirakat juga cita-cita yang mulia. Di mana mereka ingin membuat suatu produk yang berkualitas, bermutu serta bermanfaat bagi banyak orang,” ujar Fahmi kepada LANGIT7.
Fahmi menyebutkan, Abah memang selalu berusaha untuk memberikan manfaat kepada orang banyak. Bersama dengan santrinya, Abah memproduksi gula aren di rumahnya sendiri, bahkan sampai kepada pengemasan dan pemasaran pun dilakukan secara mandiri bersama dengan santrinya.