Antara Cinta dan Takut, Begini Cara Didik Anak agar Jadi Hamba Beriman
Muhajirin
Senin, 30 Oktober 2023 - 23:30 WIB
ilustrasi
Sejak anak masih dini, maka orang tua harus fokus menanamkan rasa cinta kepada Allah SWT. Bukan menanamkan rasa takut kepada-Nya. Cinta yang akan menanamkan rasa khauf (takut) anak kepada Allah SWT.
Anak akan takut untuk berkhianat pada amanah kehidupan yang Allah berikan kepada dirinya, rasa takut menyederai perintah-Nya, dan rasa takut untuk kepeleset berbuat maksiat. Itu semuai rasa takut yang lahir dari rasa cinta.
“Dan biasanya takut yang lahir dari rasa cinta dia lebih menjaga sikap, dia lebih menjaga akhlak, dia lebih menjaga adab karena lahirnya dari cinta,” kata Pendiri Sekolah Rumah Tangga, Febrianti Almeera, dalam kuliah daring Edufic, Ahad malam (29/10).
Namun, apabila anak yang ditakut-takuti sedari kecil untuk takut dengan zat Allah, biasanya orang tua menggunakan Allah untuk mewakili kemarahan dirinya. Misalnya, ‘Jangan rebutan, nanti Allah marah’. Orang tua menggambarkan Allah sebagai zat pemarah, zat yang penghukum yang ada anak akan takut.
Anak yang tumbuh dengan imaji bahwa Allah adalah zat yang menakutkan, sehingga lahir rasa takut dalam dirinya. Maka, itu sulit untuk menumbuhkan rasa cinta pada Allah. Sedangkan, motor dari penghambaan harus komplit ada cinta ada takut.
“Nah, ini salah kaprahnya biasanya anak harus takut sama Allah jadi ditakut-takutin dan memang menakuti anak itu lebih efektif membuat dia mengikuti keinginan orang tua. Itulah makna dari cinta dapat melahirkan rasa takut, tapi takut tidak dapat melahirkan rasa cinta dan itu kata kunci kita terkait menumbuhkan kecintaan anak pada Allah sedari kecil,” tutur Febrianti.
Dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24-26 menguraikan agar orang tua harus sabar dalam mengasuh dan mendidik anak. Mendidik dan mengasuh anak 15 tahun itu berlaku untuk setiap anak, bukan hanya anak pertama lahir.
Anak akan takut untuk berkhianat pada amanah kehidupan yang Allah berikan kepada dirinya, rasa takut menyederai perintah-Nya, dan rasa takut untuk kepeleset berbuat maksiat. Itu semuai rasa takut yang lahir dari rasa cinta.
“Dan biasanya takut yang lahir dari rasa cinta dia lebih menjaga sikap, dia lebih menjaga akhlak, dia lebih menjaga adab karena lahirnya dari cinta,” kata Pendiri Sekolah Rumah Tangga, Febrianti Almeera, dalam kuliah daring Edufic, Ahad malam (29/10).
Namun, apabila anak yang ditakut-takuti sedari kecil untuk takut dengan zat Allah, biasanya orang tua menggunakan Allah untuk mewakili kemarahan dirinya. Misalnya, ‘Jangan rebutan, nanti Allah marah’. Orang tua menggambarkan Allah sebagai zat pemarah, zat yang penghukum yang ada anak akan takut.
Anak yang tumbuh dengan imaji bahwa Allah adalah zat yang menakutkan, sehingga lahir rasa takut dalam dirinya. Maka, itu sulit untuk menumbuhkan rasa cinta pada Allah. Sedangkan, motor dari penghambaan harus komplit ada cinta ada takut.
“Nah, ini salah kaprahnya biasanya anak harus takut sama Allah jadi ditakut-takutin dan memang menakuti anak itu lebih efektif membuat dia mengikuti keinginan orang tua. Itulah makna dari cinta dapat melahirkan rasa takut, tapi takut tidak dapat melahirkan rasa cinta dan itu kata kunci kita terkait menumbuhkan kecintaan anak pada Allah sedari kecil,” tutur Febrianti.
Dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24-26 menguraikan agar orang tua harus sabar dalam mengasuh dan mendidik anak. Mendidik dan mengasuh anak 15 tahun itu berlaku untuk setiap anak, bukan hanya anak pertama lahir.