IPNU-IPPNU Diharapkan Jadi Pilar Terdepan Generasi Digital
Tim langit 7
Sabtu, 02 Maret 2024 - 20:00 WIB
IPNU dan IPPNU diharapkan menjadi pilar terdepan dalam manajemen isu untuk melindungi Generasi Digital dari paparan digitalisasi yang negatif.
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) diharapkan menjadi pilar terdepan dalam manajemen isu untuk melindungi Generasi Digital dari paparan digitalisasi yang negatif.
"Rekan-rekanita dari ranting hingga wilayah IPNU-IPPNU harus mampu merumuskan manajemen isu terhadap isu-isu negatif yang menyasar kita dari kalangan nahdliyin," kata Ketua PW IPNU Jatim M Fakhrul Irfansyah pada acara Megengan Akbar di Aula KH. Bisri Syansuri Gedung PWNU Jawa Timur Surabaya, Jumat (1/32024) malam.
Dalam acara refleksi untuk merayakan Harlah ke-70 IPNU dan Harlah ke-69 IPPNU yang juga dihadiri Ketua PW IPPNU Jatim Aisyah Nur Afifah, pengurus PKPT dari sejumlah kampus di Surabaya-Sidoarjo, serta beberapa alumni IPNU Jatim itu, Irfansyah mencontohkan "ploncoan" santri di Kediri yang viral di media sosial.
Baca juga:PBNU Minta Pengasuh Pesantren Teken Janji Perlindungan untuk Cegah Kekerasan Santri
"Meski pesantren itu masih baru, belum legal, dan bukan anggota RMI NU, tapi karena kasusnya terjadi di Kediri dan di pesantren, maka warganet langsung mengidentikkan dengan NU, karena itu rekan-rekanita harus melakukan manajemen isu, seperti counter isu, atau menunjukkan contoh pesantren NU yang anti-kekerasan," katanya.
Dalam kesempatan itu, anggoota Majelis Alumni (MA) IPNU Jatim Edy M Ya'kub menjelaskan kesalehan digital dalam konteks dakwah digital itu penting, mengingat radikalisasi lewat dunia digital juga masif didakwahkan para aktivis dan simpatisan kelompok radikal, bahkan ada yang berkedok nama "One Ummah" untuk mengecoh masyarakat dan aparat.
"Rekan-rekanita dari ranting hingga wilayah IPNU-IPPNU harus mampu merumuskan manajemen isu terhadap isu-isu negatif yang menyasar kita dari kalangan nahdliyin," kata Ketua PW IPNU Jatim M Fakhrul Irfansyah pada acara Megengan Akbar di Aula KH. Bisri Syansuri Gedung PWNU Jawa Timur Surabaya, Jumat (1/32024) malam.
Dalam acara refleksi untuk merayakan Harlah ke-70 IPNU dan Harlah ke-69 IPPNU yang juga dihadiri Ketua PW IPPNU Jatim Aisyah Nur Afifah, pengurus PKPT dari sejumlah kampus di Surabaya-Sidoarjo, serta beberapa alumni IPNU Jatim itu, Irfansyah mencontohkan "ploncoan" santri di Kediri yang viral di media sosial.
Baca juga:PBNU Minta Pengasuh Pesantren Teken Janji Perlindungan untuk Cegah Kekerasan Santri
"Meski pesantren itu masih baru, belum legal, dan bukan anggota RMI NU, tapi karena kasusnya terjadi di Kediri dan di pesantren, maka warganet langsung mengidentikkan dengan NU, karena itu rekan-rekanita harus melakukan manajemen isu, seperti counter isu, atau menunjukkan contoh pesantren NU yang anti-kekerasan," katanya.
Dalam kesempatan itu, anggoota Majelis Alumni (MA) IPNU Jatim Edy M Ya'kub menjelaskan kesalehan digital dalam konteks dakwah digital itu penting, mengingat radikalisasi lewat dunia digital juga masif didakwahkan para aktivis dan simpatisan kelompok radikal, bahkan ada yang berkedok nama "One Ummah" untuk mengecoh masyarakat dan aparat.