Gus Baha: Perlu Seni Mengelola Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Tim langit 7
Kamis, 07 Maret 2024 - 07:50 WIB
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha.
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan, dalam amar ma'ruf nahi munkar perlu disertai seni mengelola dengan baik.
Hal itu bertujuan agar bisa tercapai tanpa ada pihak yang merasa tidak nyaman atau tersinggung. Kalau pun ada pihak yang merasa tersinggung, seharusnya permasalahan tersebut diselesaikan tanpa merugikan berbagai pihak, tidak melebarkan masalah, menimbulkan dendam menahun.
Gus Baha smenyampaikan itu aat dialog kebangsaan menyongsong ramadhan merawat ukhuwah kebangsaan menjaga persatuan Indonesia di Universitas Gadjah Mada (UGM), Ahad lalu.
"Masalah sekarang adalah amar ma'ruf nahi munkar sudah kehilangan seni menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru," jelasnya.
Baca juga:Bacaan Doa dan Adab Ziarah Kubur Jelang Ramadhan dan Idul Fitri
Menurut Gus Baha, demi kebaikan bersama dan masyarakat, penyelesaian masalah sosial terkadang lebih tepat tanpa mengadili, mendiskreditkan, tidak memojokkan salah satu pihak.
Hal tersebut juga dilakukan oleh para nabi, ulama dan tokoh bangsa terdahulu. Langkah konkritnya dengan melakukan komunikasi dua arah, terbuka, dan mempertimbangkan berbagai hal.
Hal itu bertujuan agar bisa tercapai tanpa ada pihak yang merasa tidak nyaman atau tersinggung. Kalau pun ada pihak yang merasa tersinggung, seharusnya permasalahan tersebut diselesaikan tanpa merugikan berbagai pihak, tidak melebarkan masalah, menimbulkan dendam menahun.
Gus Baha smenyampaikan itu aat dialog kebangsaan menyongsong ramadhan merawat ukhuwah kebangsaan menjaga persatuan Indonesia di Universitas Gadjah Mada (UGM), Ahad lalu.
"Masalah sekarang adalah amar ma'ruf nahi munkar sudah kehilangan seni menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru," jelasnya.
Baca juga:Bacaan Doa dan Adab Ziarah Kubur Jelang Ramadhan dan Idul Fitri
Menurut Gus Baha, demi kebaikan bersama dan masyarakat, penyelesaian masalah sosial terkadang lebih tepat tanpa mengadili, mendiskreditkan, tidak memojokkan salah satu pihak.
Hal tersebut juga dilakukan oleh para nabi, ulama dan tokoh bangsa terdahulu. Langkah konkritnya dengan melakukan komunikasi dua arah, terbuka, dan mempertimbangkan berbagai hal.