Dulu Penjual Pentol Keliling, Kini Jadi Kiai Pengasuh Pesantren
Muhajirin
Senin, 06 September 2021 - 11:58 WIB
Kiai Mushofa bersama Gus Rijal Mumazziq Z (foto: inaifas.ac.id)
Namanya Kiai Mushofa bin Idrus. Masih muda, kelahiran 1983. Pria asal Karangrejo, Gumukmas, Jember, Jawa Timur merupakan pengasuh Ponpes Daarul Ishlah As Syafi'iyah yang terletak di pedalaman Kalimantan. Namun siapa sangka, perjuangannya hingga menjadi pengasuh pesantren luar biasa.
Pesantren yang ia asuh terletak di Desa Batu Meranti, Sungai Loban, Tanah Bumbu, Kalimantan-Selatan. Desa tersebut membutuhkan 5 jam perjalanan darat dari Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin.
Menurut penuturan Rektor Institut Al Falah Assunniyah (INAIFAS) Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, perjalanan Kiai Mushofa mengasuh Ponpes Daarul Ishlah tak mudah. Banyak hambatan. Ia tak lahir dari keluarga yang berkecukupan. Saat masih kuliah, ia ngontel dari rumah ke kecamatan, lalu numpang bis ke kampus. Begitu tiap hari.
Ia melakukan banyak pekerjaan untuk bisa membiayai kuliahnya. Salah satunya menjadi pengajar di SDNU Karangrejo 1, MIMA Karanganyar 1, dan MTs Darul Ulum Karanganyar. Ia bisa menabung dari hasil mengajar tersebut.
Kiai Mushofa menikah pada 2008 bersama Umi Latifah, yang merupakan adik kelas beliau saat masih kuliah di INAIFAS Jember. Pada 2010, pasangan ini nekat berangkat ke Kalimantan Selatan, tepatnya di Desa Batu Meranti, Tanah Bumbu, Kec. Sungai Loban.
Di desa itu, ia mengontrak bangunan warung ukuran 4 x 6 milik warga di komplek pasar Batu Meranti. Ia berjualan pentol keliling untuk menafkahi keluarga. Jika malam tiba, ia jualan bakso. Pernah juga berdagang sate. Kadang-kadang melayani catering, dan pekerjaan sambilan lain untuk menghidupi keluarganya.
Selain itu, setahun berikutnya ia diminta untuk mengajar ngaji ibu-ibu. Gaya ngajinya luwes. Tematik berkisar keseharian masyarakat. Komunikasinya pakai bahasa Jawa. Maklum, di wilayah ini, mayoritas keturunan Jawa. Ada yang dari Cilacap, Kebumen, Yogyakarta, Blora, Madiun, Banyuwangi, Jember, Ponorogo, hingga Ngawi.
Pesantren yang ia asuh terletak di Desa Batu Meranti, Sungai Loban, Tanah Bumbu, Kalimantan-Selatan. Desa tersebut membutuhkan 5 jam perjalanan darat dari Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin.
Menurut penuturan Rektor Institut Al Falah Assunniyah (INAIFAS) Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, perjalanan Kiai Mushofa mengasuh Ponpes Daarul Ishlah tak mudah. Banyak hambatan. Ia tak lahir dari keluarga yang berkecukupan. Saat masih kuliah, ia ngontel dari rumah ke kecamatan, lalu numpang bis ke kampus. Begitu tiap hari.
Ia melakukan banyak pekerjaan untuk bisa membiayai kuliahnya. Salah satunya menjadi pengajar di SDNU Karangrejo 1, MIMA Karanganyar 1, dan MTs Darul Ulum Karanganyar. Ia bisa menabung dari hasil mengajar tersebut.
Kiai Mushofa menikah pada 2008 bersama Umi Latifah, yang merupakan adik kelas beliau saat masih kuliah di INAIFAS Jember. Pada 2010, pasangan ini nekat berangkat ke Kalimantan Selatan, tepatnya di Desa Batu Meranti, Tanah Bumbu, Kec. Sungai Loban.
Di desa itu, ia mengontrak bangunan warung ukuran 4 x 6 milik warga di komplek pasar Batu Meranti. Ia berjualan pentol keliling untuk menafkahi keluarga. Jika malam tiba, ia jualan bakso. Pernah juga berdagang sate. Kadang-kadang melayani catering, dan pekerjaan sambilan lain untuk menghidupi keluarganya.
Selain itu, setahun berikutnya ia diminta untuk mengajar ngaji ibu-ibu. Gaya ngajinya luwes. Tematik berkisar keseharian masyarakat. Komunikasinya pakai bahasa Jawa. Maklum, di wilayah ini, mayoritas keturunan Jawa. Ada yang dari Cilacap, Kebumen, Yogyakarta, Blora, Madiun, Banyuwangi, Jember, Ponorogo, hingga Ngawi.