Media Sosial Dorong Seseorang untuk Flexing, Ini Kata Dosen Unair
Tim langit 7
Selasa, 14 Mei 2024 - 14:00 WIB
ilustrasi
Media sosial (medsos) merupakan istilah yang mengacu pada teknologi digital yang memungkinkan setiap orang saling terhubung, berinteraksi, hingga mengirimkan pesan.
Ketidakbijakan dalam bermedsos dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Salah satunya adalah perilaku flexing.
Flexing identik dengan perilaku pamer atau menyombongkan diri, yang menurut Australian Institute of Professional Counsellors adalah “melebih-lebihkan atau membesar-besarkan sesuatu.” Individu yang gemar pamer disebabkan karena kepercayaannya akan harta dan pencapaian yang akan membuat orang lain terkesan.
Baca juga:Mau Anak Sukses di Masa Depan? Ajarkan 7 Soft Skill Ini
Belakangan ini viral di medsos, mahasiswa kedapatan memamerkan kekayaan di akun media sosialnya, padahal ia adalah penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Fenomena itu memicu perbincangan panas di kalangan netizen. Banyak yang mempertanyakan kelayakan mahasiswa tersebut sebagai penerima bantuan biaya KIP-K.
Dosen Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlanngga (Unair), Muhammad Noor Fakhruzzaman SKom MSc, menyebut algoritma medsos dapat memicu persepsi yang timpang terhadap suatu isu.
Selain memicu pengguna untuk terus meningkatkan interaksi di medsos, penyalahgunaan medsos untuk flexing juga mendorong untuk mencari ‘dopamine rush’ atau sensasi senang dari adanya pengakuan orang lain.
Ketidakbijakan dalam bermedsos dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Salah satunya adalah perilaku flexing.
Flexing identik dengan perilaku pamer atau menyombongkan diri, yang menurut Australian Institute of Professional Counsellors adalah “melebih-lebihkan atau membesar-besarkan sesuatu.” Individu yang gemar pamer disebabkan karena kepercayaannya akan harta dan pencapaian yang akan membuat orang lain terkesan.
Baca juga:Mau Anak Sukses di Masa Depan? Ajarkan 7 Soft Skill Ini
Belakangan ini viral di medsos, mahasiswa kedapatan memamerkan kekayaan di akun media sosialnya, padahal ia adalah penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Fenomena itu memicu perbincangan panas di kalangan netizen. Banyak yang mempertanyakan kelayakan mahasiswa tersebut sebagai penerima bantuan biaya KIP-K.
Dosen Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlanngga (Unair), Muhammad Noor Fakhruzzaman SKom MSc, menyebut algoritma medsos dapat memicu persepsi yang timpang terhadap suatu isu.
Selain memicu pengguna untuk terus meningkatkan interaksi di medsos, penyalahgunaan medsos untuk flexing juga mendorong untuk mencari ‘dopamine rush’ atau sensasi senang dari adanya pengakuan orang lain.