Syiar dan Aksi Peduli Kebersihan Lewat Gerakan Mukena Bersih
Lusi mahgriefie
Rabu, 12 Juni 2024 - 14:23 WIB
Gerakan Mukena Bersih (GMB), komunitas muslimah yang memastikan tersedianya mukena bersih di tempat ibadah umum, musala dan masjid.Foto/Dok GMB
Mukena kerap digunakan muslimah untuk menutup aurat ketika menjalankan shalat. Tentunya, mukena yang dipakai harus bersih, bebas dari najis. Lebih baiknya wangi.
Namun bagaimana jika mukena yang digunakan kotor dan bau, tentu akan mengurangi kekhusyukan shalat bukan?
Mukena yang bersih diyakini bisa membantu seorang muslimah khusyuk dalam menjalankan shalat. Namun pada kenyataannya, ada beberapa tempat ibadah umum yang tidak menyediakan sarana yang baik seperti mukena kotor dan bau.
Pengalaman tidak menyenangkan ini yang lantas membuat hati Gita Saraswati tergerak untuk melakukan sebuah aksi nyata. Hingga akhirnya lahir Gerakan Mukena Bersih (GMB).
Baca juga:Pengajian Warga Indonesia di Inggris: Silaturahmi, Belajar dan Kuliner
“Sebelum shalat tentunya saya lebih dahulu sudah memilih mukena yang paling bersih di situ. Setelah saya selesai shalat dan berdoa lalu mengucap amin sambil membasuh muka, saat itu saya temukan kotoran di mukena yang saya pakai,” ungkap Gita saat ditemui Selasa (11/6/2024).
Kesal dan kecewa dirasakan Gita. “Shalat itu waktunya kita menghadap Allah, sebegitu rahmat yang diberikan, kita bisa datang anytime, anyhow untuk shalat. Tapi ketika mengindahkan ajaran Islam bahwa kebersihan sebagian dari iman, berarti praktik dalam kehidupan sehari-hari belum optimal.”
Namun bagaimana jika mukena yang digunakan kotor dan bau, tentu akan mengurangi kekhusyukan shalat bukan?
Mukena yang bersih diyakini bisa membantu seorang muslimah khusyuk dalam menjalankan shalat. Namun pada kenyataannya, ada beberapa tempat ibadah umum yang tidak menyediakan sarana yang baik seperti mukena kotor dan bau.
Pengalaman tidak menyenangkan ini yang lantas membuat hati Gita Saraswati tergerak untuk melakukan sebuah aksi nyata. Hingga akhirnya lahir Gerakan Mukena Bersih (GMB).
Baca juga:Pengajian Warga Indonesia di Inggris: Silaturahmi, Belajar dan Kuliner
“Sebelum shalat tentunya saya lebih dahulu sudah memilih mukena yang paling bersih di situ. Setelah saya selesai shalat dan berdoa lalu mengucap amin sambil membasuh muka, saat itu saya temukan kotoran di mukena yang saya pakai,” ungkap Gita saat ditemui Selasa (11/6/2024).
Kesal dan kecewa dirasakan Gita. “Shalat itu waktunya kita menghadap Allah, sebegitu rahmat yang diberikan, kita bisa datang anytime, anyhow untuk shalat. Tapi ketika mengindahkan ajaran Islam bahwa kebersihan sebagian dari iman, berarti praktik dalam kehidupan sehari-hari belum optimal.”