Lia Yogiantoro, Menulis Buku karena Terinspirasi Buku Iqro
Lusi mahgriefie
Rabu, 26 Juni 2024 - 20:00 WIB
Lia Yogiantoro, penulis buku Aku dan Hijab & Aku dan Hijrah. Foto: Lusi M
Penulis buku bernuansa Islami, Lia Yogiantoro telah menciptakan dua buku yang berjudul Aku dan Hijab, serta buku kedua berjudul Aku dan Hijrah. Ia mengaku, menulis buku karena terinspirasi dari buku Iqro, buku yang digunakan untuk pemula sebelum belajar membaca Al Quran, yang hingga kini masih beredar luas.
Untuk buku Aku dan Hijab telah terbit pada 2013 lalu. Buku ini ditulis Lia Bersama dua temannya, Uli dan Debby. Sementara buku Aku dan Hijrah terbit 2019 lalu. Rencananya paling lambat tahun depan buku ketiga akan diluncurkan.
Bila ditanya kenapa jarak satu buku dengan buku berikutnya memiliki jeda yang cukup jauh? Lia, sapaan akrabnya punya jawaban sendiri.
“Menulis buku sebenarnya bukan obsesi saya, dan menulis juga bukan hal utama buat saya. Saya tidak percaya diri, tapi akhirnya saya belajar ketika tidak percaya diri ternyata itu cuma perasaan kita saja,” ujar Lia saat ditemui di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Rabu (26/6/2024).
Baca juga:3 Pesan Penting Wakil Grand Syekh Al-Azhar Kairo pada Pengurus MUI
Wanita yang merupakan founder Majelis Taklim Khoirotunnisa ini menambahkan, saat dirinya merasa tidak percaya diri, ia mengingat ucapan seorang Ustadz pada sebuah kajian yang dihadirinya yaitu, “jika ada manusia yang tidak percaya diri dengan kemampuannya, itu sama saja tidak yakin dengan Allah Swt”.
“Padahal Allah Swt kasih ujian ke kita karena anggap kita mampu. Karena itu setiap ada yang tawari saya untuk mengerjakan sesuatu, ya sudah saya coba saja. Kalau tidak percaya diri itu kadang hanya bisikan setan saja,” imbuh Lia.
Untuk buku Aku dan Hijab telah terbit pada 2013 lalu. Buku ini ditulis Lia Bersama dua temannya, Uli dan Debby. Sementara buku Aku dan Hijrah terbit 2019 lalu. Rencananya paling lambat tahun depan buku ketiga akan diluncurkan.
Bila ditanya kenapa jarak satu buku dengan buku berikutnya memiliki jeda yang cukup jauh? Lia, sapaan akrabnya punya jawaban sendiri.
“Menulis buku sebenarnya bukan obsesi saya, dan menulis juga bukan hal utama buat saya. Saya tidak percaya diri, tapi akhirnya saya belajar ketika tidak percaya diri ternyata itu cuma perasaan kita saja,” ujar Lia saat ditemui di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Rabu (26/6/2024).
Baca juga:3 Pesan Penting Wakil Grand Syekh Al-Azhar Kairo pada Pengurus MUI
Wanita yang merupakan founder Majelis Taklim Khoirotunnisa ini menambahkan, saat dirinya merasa tidak percaya diri, ia mengingat ucapan seorang Ustadz pada sebuah kajian yang dihadirinya yaitu, “jika ada manusia yang tidak percaya diri dengan kemampuannya, itu sama saja tidak yakin dengan Allah Swt”.
“Padahal Allah Swt kasih ujian ke kita karena anggap kita mampu. Karena itu setiap ada yang tawari saya untuk mengerjakan sesuatu, ya sudah saya coba saja. Kalau tidak percaya diri itu kadang hanya bisikan setan saja,” imbuh Lia.