Gus Baha: Islam Itu Sederhana, Perbuatan Mubah Bisa Dilakukan untuk Tinggalkan Maksiat
Tim langit 7
Jum'at, 28 Juni 2024 - 08:00 WIB
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha.
Pengasuh Pesantren Tahfidz Qur’an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah KH Ahmad Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) menyebut, Islam itu sederhana. Perbuatan yang mubah dan membahagiakan bisa dilakukan untuk meninggalkan maksiat.
“Pokoknya hidup bahagia tidak maksiat itu bagus. Nggak ada mubah yang kita lakukan kecuali saat itu kita meninggalkan haram,” tuturnya. Hal tersebut disampaikan pada puncak perayaan Haul Mbah Sambu di makam kompek masjid Jami’ Lasem Rembang Jawa Tengah, baru-baru ini.
Baca juga:5 Keutamaan Baca Surah Yasin, Dosa-Dosa Diampuni hingga Dimudahkan Urusan
Sebagai contoh, Gus Baha mengatakan bahwa keturunan Mbah Sambu hobi ngopi dan cangkrukan atau nongkrong. Namun, Gus Baha menekankan bahwa ngopi dan nongkrong itu pada waktu bersamaan mereka meninggalkan perkara-perkara haram.
“Jadi jangan dihitung cangkruk-nya, tapi banyak hal (haram dan maksiat) yang ditinggalkan,” terang Gus Baha.
Ia kemudian membuat anekdot dengan mengandaikan Raqib dan Atid sebagai ahli ushul fiqih, sehingga apabila seorang Muslim melakukan perkara yang mubah (dibolehkan) maka dihitung sedang meninggalkan maksiat.
Namun, kata Gus Baha, berbeda kalau Raqib dan Atid dalam mencatat amal-amal manusia menggunakan perspektif ahli thariqah. Sebab tentu amal ibadah manusia dilihat secara kaku atau kurang fleksibel.
“Pokoknya hidup bahagia tidak maksiat itu bagus. Nggak ada mubah yang kita lakukan kecuali saat itu kita meninggalkan haram,” tuturnya. Hal tersebut disampaikan pada puncak perayaan Haul Mbah Sambu di makam kompek masjid Jami’ Lasem Rembang Jawa Tengah, baru-baru ini.
Baca juga:5 Keutamaan Baca Surah Yasin, Dosa-Dosa Diampuni hingga Dimudahkan Urusan
Sebagai contoh, Gus Baha mengatakan bahwa keturunan Mbah Sambu hobi ngopi dan cangkrukan atau nongkrong. Namun, Gus Baha menekankan bahwa ngopi dan nongkrong itu pada waktu bersamaan mereka meninggalkan perkara-perkara haram.
“Jadi jangan dihitung cangkruk-nya, tapi banyak hal (haram dan maksiat) yang ditinggalkan,” terang Gus Baha.
Ia kemudian membuat anekdot dengan mengandaikan Raqib dan Atid sebagai ahli ushul fiqih, sehingga apabila seorang Muslim melakukan perkara yang mubah (dibolehkan) maka dihitung sedang meninggalkan maksiat.
Namun, kata Gus Baha, berbeda kalau Raqib dan Atid dalam mencatat amal-amal manusia menggunakan perspektif ahli thariqah. Sebab tentu amal ibadah manusia dilihat secara kaku atau kurang fleksibel.