Kolom Pakar: Agama Rasional Etnik Sunda Melawan Kuntilanak, Jurig, Dedemit, Kolongwewe
Tim langit 7
Rabu, 04 Desember 2024 - 14:30 WIB
Kolom Pakar: Agama Rasional Etnik Sunda Melawan Kuntilanak, Jurig, Dedemit, Kolongwewe
Dr. Beni Ahmad Saebani,M.Si
Dosen Sosiologi-Antropologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung
LANGIT7.ID-Islam sebagai agama yang berisi doktrin tentang alam nyata dan alam gaib, semua muslim diwajibkan memahami doktrin dari pesan-pesan Allah SWT. secara rasional. Ajaran-Nya harus dikaji oleh akal terutama ajaran yang mendendangkan kehidupan dunia realitas.
Namun, semua muslim juga diwajibkan memercayai sesuatu yang metafisik, yang gaib, yang keberadaannya tidak kasat mata, yang keadaannya berbeda dengan keadaan yang materil. Penjelasan ajaran Islam tentang yang metafisik dinyatakan sebagai urusan Allah, dikarenakan hanya sedikit oleh yang mampu memahaminya.
Norma tentang segala sesuatu yang bukan sesuatu yang dapat dipastikan eksistensinya dengan ilmu pengetahuan alam, melainkan harus atas izin Allah untuk membuka hijab yang menghalangi pandangan mata manusia, itulah mengapa harus percaya kepada yang gaib, percaya adanya jin, malaikat, dan makhluk "halus" yang lainnya.
Kepercayaan tentang itu sebenarnya bagi masyarakat Sunda bukan sesuatu yang asing. Leluhur etnik Sunda, para karuhun, nenek moyang, dan orangtua masa lalu mendakwahkan soal itu semua, yakni mengenai adanya dedemit, jurig, kuntilanak, ririwa, buta hejo, kalengwewe, dan yang lainnya.
Dosen Sosiologi-Antropologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung
LANGIT7.ID-Islam sebagai agama yang berisi doktrin tentang alam nyata dan alam gaib, semua muslim diwajibkan memahami doktrin dari pesan-pesan Allah SWT. secara rasional. Ajaran-Nya harus dikaji oleh akal terutama ajaran yang mendendangkan kehidupan dunia realitas.
Namun, semua muslim juga diwajibkan memercayai sesuatu yang metafisik, yang gaib, yang keberadaannya tidak kasat mata, yang keadaannya berbeda dengan keadaan yang materil. Penjelasan ajaran Islam tentang yang metafisik dinyatakan sebagai urusan Allah, dikarenakan hanya sedikit oleh yang mampu memahaminya.
Norma tentang segala sesuatu yang bukan sesuatu yang dapat dipastikan eksistensinya dengan ilmu pengetahuan alam, melainkan harus atas izin Allah untuk membuka hijab yang menghalangi pandangan mata manusia, itulah mengapa harus percaya kepada yang gaib, percaya adanya jin, malaikat, dan makhluk "halus" yang lainnya.
Kepercayaan tentang itu sebenarnya bagi masyarakat Sunda bukan sesuatu yang asing. Leluhur etnik Sunda, para karuhun, nenek moyang, dan orangtua masa lalu mendakwahkan soal itu semua, yakni mengenai adanya dedemit, jurig, kuntilanak, ririwa, buta hejo, kalengwewe, dan yang lainnya.