Konsep Kesetaraan Jender dalam al-Qur'an
Miftah yusufpati
Sabtu, 18 Januari 2025 - 18:00 WIB
Pria dan wanita dan suku bangsa manapun mempunyai potensi yang sama untuk menjadi abid dan khalifah. Ilustrasi: Lovedevani
LANGIT7.ID--Al-Qur'an memberikan pandangan optimistis terhadap kedudukan dan keberadaan perempuan. Semua ayat yang membicarakan tentang Adam dan pasangannya, sampai keluar ke bumi, selalu menekankan kedua belah pihak dengan menggunakan kata ganti untuk dua orang (dlamir mutsanna).
Prof Dr KH Nasaruddin Umar lewat tulisannya berjudul "Perspektif Jender Dalam Islam" dalam buku Jurnal Pemikiran Islam Paramadina mencontohkan kata huma, misalnya, keduanya memanfaatkan fasilitas surga (QS al-Baqarah/2:35), mendapat kualitas godaan yang sama dari setan (QS al-A'rif/7:20), sama-sama memakan buah khuldi dan keduanya menerima akibat terbuang ke bumi (7:22), sama-sama memohon ampun dan sama-sama diampuni.Tuhan (7:23).
Setelah di bumi, antara satu dengan lainnya saling melengkapi, "mereka adalah pakaian bagimu dan kamu juga adalah pakaian bagi mereka" (QS al-Baqarah/2:187).
Secara ontologis, kata Nasaruddin, masalah-masalah substansial manusia tidak diuraikan panjang lebar di dalam al-Qur'an. Seperti mengenai roh, tidak dijelaskan karena hal itu dianggap "urusan Tuhan" (QS al-Isr'a'/17:85). Yang ditekankan ialah eksistensi manusia sebagai hamba/'abid (QS al-Dzariyat/51:56) dan sebagai wakil Tuhan di bumi/khalifah fi al-ardl (QS al-An'am/6:165).
Baca juga: Persepsi Masyarakat Terhadap Gender Banyak Bersumber dari Tradisi Keagamaan
Manusia adalah satu-satunya makhluk eksistensialis, karena hanya makhluk ini yang bisa turun naik derajatnya di sisi Tuhan.
Sekalipun manusia ciptaan terbaik (ahsan taqwim/QS al-Thin/95:4) tetapi tidak mustahil akan turun ke derajat "paling rendah" (asfala safilin/QS al-Tin/95:5), bahkan bisa lebih rendah dari pada binatang (QS al-A'raf/7:179).
Prof Dr KH Nasaruddin Umar lewat tulisannya berjudul "Perspektif Jender Dalam Islam" dalam buku Jurnal Pemikiran Islam Paramadina mencontohkan kata huma, misalnya, keduanya memanfaatkan fasilitas surga (QS al-Baqarah/2:35), mendapat kualitas godaan yang sama dari setan (QS al-A'rif/7:20), sama-sama memakan buah khuldi dan keduanya menerima akibat terbuang ke bumi (7:22), sama-sama memohon ampun dan sama-sama diampuni.Tuhan (7:23).
Setelah di bumi, antara satu dengan lainnya saling melengkapi, "mereka adalah pakaian bagimu dan kamu juga adalah pakaian bagi mereka" (QS al-Baqarah/2:187).
Secara ontologis, kata Nasaruddin, masalah-masalah substansial manusia tidak diuraikan panjang lebar di dalam al-Qur'an. Seperti mengenai roh, tidak dijelaskan karena hal itu dianggap "urusan Tuhan" (QS al-Isr'a'/17:85). Yang ditekankan ialah eksistensi manusia sebagai hamba/'abid (QS al-Dzariyat/51:56) dan sebagai wakil Tuhan di bumi/khalifah fi al-ardl (QS al-An'am/6:165).
Baca juga: Persepsi Masyarakat Terhadap Gender Banyak Bersumber dari Tradisi Keagamaan
Manusia adalah satu-satunya makhluk eksistensialis, karena hanya makhluk ini yang bisa turun naik derajatnya di sisi Tuhan.
Sekalipun manusia ciptaan terbaik (ahsan taqwim/QS al-Thin/95:4) tetapi tidak mustahil akan turun ke derajat "paling rendah" (asfala safilin/QS al-Tin/95:5), bahkan bisa lebih rendah dari pada binatang (QS al-A'raf/7:179).