Sekadar Percaya Akan Wujud Tuhan Tidak Membuat Seseorang Menjadi Islam
Miftah yusufpati
Jum'at, 31 Januari 2025 - 18:07 WIB
Muhammad Imaduddin Abdulrahim. Foto: Ist
LANGIT7.ID-Sekadar percaya akan wujudnya Tuhan belumlah cukup untuk menjadikan seseorang Islam, karena kepercayaan akan wujudnya Tuhan bukan merupakan suatu prestasi. Lagi pula, kepercayaan ini sudah ada dengan sendirinya tertanam di dalam hati sanubari setiap manusia sejak lahir. Walaupun, kadang-kadang kepercayaan ini seolah-olah tertutupi dan tidak ternyatakan, namun dalam keadaan tertentu ia muncul dengan tiba-tiba.
Misalnya, di dalam keadaan gembira ria orang sering melupakan Tuhan, bahkan sebagian orang dengan sombong berani mengatakan: "tidak ada Tuhan". Namun dalam keadaan yang kritis, ketika sedang diancam bahaya maut, atau sedang berlayar di tengah lautan yang dilanda badai dan topan orang ini dengan khusyu'nya lantas berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Muhammad Imaduddin Abdulrahim atau Bang Imad (21 April 1931 – 2 Agustus 2008) dalam buku "Kuliah Tauhid" (Pustaka-Perpustakaan Salman ITB Bandung, 1980) menjelaskan watak manusia seperti ini pun digambarkan di dalam Al-Quran di dalam beberapa surat. Misalnya:
"Dialah Yang memungkinkan kamu berjalan di darat dan berlayar di laut, sampai ketika kamu berada di kapal. Ketika kapal ini meluncur dengan angin baik mereka bergembira karenanya. Tiba-tiba mereka dipukul angin topan dengan gelombang yang datang dari segala penjuru sehingga mereka merasa seperti terkepung, maka mereka pun berdoa kepada Allah dengan janji ikhlas akan taat semata kepada-Nya: 'Jika Kau selamatkan kami tentulah kami akan bersyukur'. Tetapi setelah Ia menyelamatkan mereka, mereka bertindak melanggar yang hak di bumi. Wahai manusia! Keingkaranmu akan kebenaran itu hanya merugikan dirimu sendiri. Kegembiraan di dunia ini hanyalah sementara, kemudian kamu akan kembali kepada Kami, maka akan Kami beritahukan pada kamu apa-apa yang telah kamu lakukan itu." (QS 10:22-23).
Baca juga: Sejarah Ilmu Tauhid: Belum Ada di Zaman Rasulullah SAW
Di dalam surat lain Allah berfirman: "Tiadakah kau lihat, bahwa kapal-kapal berlayar di lautan dengan karunia Allah, agar Ia dapat memperlihatkan kepadamu tanda-tanda-Nya? Sungguh, dalam yang demikian itu ada tanda-tanda bagi setiap orang yang selalu shabar dan banyak bersyukur. Bila ombak melingkupi mereka seperti atap, mereka menyeru Allah, ikhlash ta'at kepada-Nya dalam agama. Tapi setelah Ia selamatkan mereka ke daratan, hanya sebahagian di antara mereka yang memilih jalan yang benar. Namun tiada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali mereka yang berkhianat dan tidak tahu berterima kasih." (QS 31:31-32).
Ayat-ayat seperti ini ada kira-kira sepuluh kali diulang di dalam al-Qur'an dengan redaksi yang berbeda-beda (lihat: QS 6: 63- 64; 16:53-54; 17: 67; 29: 65; 30: 33; 39: 8, 49; 41: 51).
Misalnya, di dalam keadaan gembira ria orang sering melupakan Tuhan, bahkan sebagian orang dengan sombong berani mengatakan: "tidak ada Tuhan". Namun dalam keadaan yang kritis, ketika sedang diancam bahaya maut, atau sedang berlayar di tengah lautan yang dilanda badai dan topan orang ini dengan khusyu'nya lantas berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Muhammad Imaduddin Abdulrahim atau Bang Imad (21 April 1931 – 2 Agustus 2008) dalam buku "Kuliah Tauhid" (Pustaka-Perpustakaan Salman ITB Bandung, 1980) menjelaskan watak manusia seperti ini pun digambarkan di dalam Al-Quran di dalam beberapa surat. Misalnya:
"Dialah Yang memungkinkan kamu berjalan di darat dan berlayar di laut, sampai ketika kamu berada di kapal. Ketika kapal ini meluncur dengan angin baik mereka bergembira karenanya. Tiba-tiba mereka dipukul angin topan dengan gelombang yang datang dari segala penjuru sehingga mereka merasa seperti terkepung, maka mereka pun berdoa kepada Allah dengan janji ikhlas akan taat semata kepada-Nya: 'Jika Kau selamatkan kami tentulah kami akan bersyukur'. Tetapi setelah Ia menyelamatkan mereka, mereka bertindak melanggar yang hak di bumi. Wahai manusia! Keingkaranmu akan kebenaran itu hanya merugikan dirimu sendiri. Kegembiraan di dunia ini hanyalah sementara, kemudian kamu akan kembali kepada Kami, maka akan Kami beritahukan pada kamu apa-apa yang telah kamu lakukan itu." (QS 10:22-23).
Baca juga: Sejarah Ilmu Tauhid: Belum Ada di Zaman Rasulullah SAW
Di dalam surat lain Allah berfirman: "Tiadakah kau lihat, bahwa kapal-kapal berlayar di lautan dengan karunia Allah, agar Ia dapat memperlihatkan kepadamu tanda-tanda-Nya? Sungguh, dalam yang demikian itu ada tanda-tanda bagi setiap orang yang selalu shabar dan banyak bersyukur. Bila ombak melingkupi mereka seperti atap, mereka menyeru Allah, ikhlash ta'at kepada-Nya dalam agama. Tapi setelah Ia selamatkan mereka ke daratan, hanya sebahagian di antara mereka yang memilih jalan yang benar. Namun tiada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali mereka yang berkhianat dan tidak tahu berterima kasih." (QS 31:31-32).
Ayat-ayat seperti ini ada kira-kira sepuluh kali diulang di dalam al-Qur'an dengan redaksi yang berbeda-beda (lihat: QS 6: 63- 64; 16:53-54; 17: 67; 29: 65; 30: 33; 39: 8, 49; 41: 51).