Gaya Hidup Islami Hidupkan Peluang Industri Baru Indonesia
Garry Talentedo Kesawa
Rabu, 22 September 2021 - 21:05 WIB
Keterangan no pork no lard memiliki arti tanpa daging dan lemak babi. Namun, no pork no lard tak sepenuhnya menjamin makanan tersebut halal. Foto: Istimewa
Gaya hidup bernilai Islam atau Islami ternyata mendapat porsi dalam perekonomian Tanah Air. Peluang pasar potensial baru pun tercipta lantaran gaya hidup islami kian marak di Indonesia.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, peluang pasar yang baru tersebut bisa muncul dari industri fesyen, makanan, minuman, dan industri jasa. Termasuk pula, kata dia, pariwisata, pendidikan, dan kesehatan.
Baca Juga:Kemenkeu Sebut Realisasi PEN Capai Rp326,74 Triliun, Ini Rinciannya!
"Adanya peningkatan selera masyarakat untuk melakukan gaya hidup Islam ini tentu menimbulkan suatu kesempatan yang luar biasa, yaitu tumbuhnya industri yang bisa memenuhi referensi atau permintaan dari masyarakat ini," kata Sri dalam acara Penandatanganan MoA Program Strategic Sharia Banking Management (SSBM) secara daring di Jakarta, Rabu (22/9/2021).
Maka dari itu, hal tersebut menjadi salah satu tolak ukur pentingnya membangun kemampuan industri, baik di sektor riil maupun jasa yang menggambarkan kebutuhan masyarakat yang terus berubah. "Membangun kemampuan industri dengan memperbaiki sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan industrinya, tidak hanya hari ini namun ke depan," ungkapnya.
Baca Juga:Lewat Riset, Pemerintah Tingkatkan Literasi Ekonomi Syariah dan Produk Halal
Sri menilai, SDM industri syariah harus memiliki kemampuan manajerial, kepemimpinan, dan kemampuan melihat kesempatan. Dengan begitu, bisa mengembangkan industri berbasis Islam atau halal baik berupa barang, makanan, fesyen, jasa, dan lainnya, maupun mengembangkan sektor keuangan syariah.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, peluang pasar yang baru tersebut bisa muncul dari industri fesyen, makanan, minuman, dan industri jasa. Termasuk pula, kata dia, pariwisata, pendidikan, dan kesehatan.
Baca Juga:Kemenkeu Sebut Realisasi PEN Capai Rp326,74 Triliun, Ini Rinciannya!
"Adanya peningkatan selera masyarakat untuk melakukan gaya hidup Islam ini tentu menimbulkan suatu kesempatan yang luar biasa, yaitu tumbuhnya industri yang bisa memenuhi referensi atau permintaan dari masyarakat ini," kata Sri dalam acara Penandatanganan MoA Program Strategic Sharia Banking Management (SSBM) secara daring di Jakarta, Rabu (22/9/2021).
Maka dari itu, hal tersebut menjadi salah satu tolak ukur pentingnya membangun kemampuan industri, baik di sektor riil maupun jasa yang menggambarkan kebutuhan masyarakat yang terus berubah. "Membangun kemampuan industri dengan memperbaiki sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan industrinya, tidak hanya hari ini namun ke depan," ungkapnya.
Baca Juga:Lewat Riset, Pemerintah Tingkatkan Literasi Ekonomi Syariah dan Produk Halal
Sri menilai, SDM industri syariah harus memiliki kemampuan manajerial, kepemimpinan, dan kemampuan melihat kesempatan. Dengan begitu, bisa mengembangkan industri berbasis Islam atau halal baik berupa barang, makanan, fesyen, jasa, dan lainnya, maupun mengembangkan sektor keuangan syariah.