LANGIT7.ID, Jakarta - Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) bersama Bank Indonesia, berupaya meningkatkan pengembangan riset dan inovasi sains halal yang unggul, kompetitif, dan berdaya saing.
Hal itu dilakukan melalui Webinar Riset Sains Halal & Inovasi Produk Halal Nasional pada Selasa kemarin (21/9), yang merupakan bagian agenda
Road to Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2021 ke-8. Sementara acara puncak ISEF 2021 akan dilaksanakan pada 25-30 Oktober 2021 mendatang secara daring dan luring.
Webinar tersebut diyakini akan menjadi media sarana literasi, komunikasi, dan koordinasi untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai pusat produsen produk halal dunia.
Baca juga: Potensi Pangsa Pasar Konsumen Muslim Cukup BesarStaf Ahli Menteri Keuangan Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal, Suminto, mengatakan, untuk mendukung visi Indonesia yang berdaya saing dan berdaulat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, pemerintah telah menyusun Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) tahun 2017-2045.
"Hal tersebut dilakukan untuk menyelaraskan kebutuhan riset jangka panjang agar sejalan dengan arah perencanaan pembangunan nasional terkait ilmu pengetahuan dan teknologi," katanya saat mewakil Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Bidang prioritas yang ditetapkan dalam RIRN 2017-2045 meliputi pangan-pertanian, energi, kesehatan-obat, transportasi, teknologi informasi, pertahanan, material maju, kemaritiman, kebencanaan dan sosial-humaniora.
"Fokus bidang prioritas dalam RIRN tersebut juga diharapkan memberikan peluang bagi pengembangan riset di bidang ekonomi syariah untuk ikut serta dalam arus besar penelitian nasional," ujar Suminto.
Sementara itu, dikutip dari keterangan resminya, Direktur Eksekutif KNEKS, Ventje Rahardjo menjelaskan, Indonesia memiliki berbagai lembaga mau pun pusat riset strategis. Di mana hal itu berkontribusi pada pengembangan ekonomi syariah nasional, baik dalam bentuk riset ilmiah maupun riset terapan yang dikomersialisasi.
Lembaga atau pusat riset tersebut berperan aktif serta berada di bawah koordinasi Kementerian/Lembaga, universitas, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maupun pelaku industri.
"Hingga saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 9 pusat riset di bidang sains halal, lebih dari 58 program/pusat studi ekonomi syariah dan sains halal yang aktif dalam kegiatan riset dan inovasi. Selain itu, juga memiliki lebih dari 1.084 peneliti dengan spesialisasi ekonomi syariah serta industri produk halal," kata Ventje.
Baca juga: Pemerintah Siapkan Dua Kawasan Industri Halal di NTBLebih lanjut, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Handoko menyebutkan dukungan riset sangat diperlukan dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Untuk itu, pihaknya akan terus mendorong langkah yang dilakukan pihak terkait dalam peningkatan literasi terkait ekonomi syariah dan produk halal di tanah air.
"Saya telah mendapatkan arahan dari Bapak Wakil Presiden RI, dimana BRIN dapat berperan strategis terkait Riset dan Inovasi Produk Halal," kata Handoko.
Pihaknya mengaku tengah menindaklanjuti arahan Wakil Presiden Ma'ruf Amin, agar BRIN secara aktif turut serta dalam pengembangan Research and Development (R&D) bahan substitusi non-halal dan autentikasi halal. Program ini perlu mempertimbangkan standar nilai halal yang baku, hingga mencakup aspek molekular.
Baca juga: Perhatian Besar Pemerintah terhadap Perbankan Syariah Tanah Air, Ini BuktinyaUntuk itu, pihaknya juga berkoordinasj dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN) guna mendukung penuh ekosistem Syariah Indonesia, khususnya dari sisi R&D. Selain itu, BRIN juga telah melakukan investasi menggunakan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dalam mendirikan Pusat Sains dan Teknologi Pangan di Gunung Kidul, Yogyakarta, dimana Pusat Halal dialokasikan di pusat tersebut.
“Bentuk dukungan konkret riset ekonomi Syariah mencakup perubahan proses bisnis guna meningkatkan daya tarik dari produk-produk ekonomi dan keuangan syariah, pengembangan teknologi melalui untuk memastikan kehalalan produk dan standar nilai halal. Juga pengembangan Sumber Daya Manusia yang kompeten dalam melakukan kegiatan R&D dan inovasi,” ujar Handoko.
Di sisi lain, Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia Prijono berharap kegiatan ini dapat memberikan informasi dan menghasilkan masukan, serta rekomendasi dalam mengembangkan produk-produk halal Indonesia.
"Harapan ke depan, peran ekonomi syariah akan semakin signifikan memberikan kontribusi pemulihan ekonomi nasional," ujar Prijono.
(zul)