Rektor dan Dekan Unissula Berbaris Mencium Tangan Mahasiswa Berusia 52 Tahun Ini, Ternyata Buya Yahya
Nabil
Senin, 17 Maret 2025 - 16:10 WIB
Rektor dan Dekan Unissula Berbaris Mencium Tangan Mahasiswa Berusia 52 Tahun Ini, Ternyata Buya Yahya
LANGIT7.ID-Jakarta; Pemandangan tidak biasa terjadi di Auditorium Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang pada Sabtu (15/3/2025). Saat ratusan mahasiswa berbaris untuk menerima ijazah, jajaran rektor dan dekan justru terlihat berbaris mencium tangan salah satu wisudawan. Pria berusia 52 tahun ini bukan orang sembarangan—dia adalah Prof. Yahya Zaenul Muarif Lc., Ph.D., atau yang dikenal luas sebagai Buya Yahya, seorang profesor dan ulama terkemuka yang baru saja menyelesaikan gelar S1 Psikologi.
Prof. Yahya Zaenul Muarif Lc., Ph.D., atau yang akrab disapa Buya Yahya, membuktikan bahwa rasa haus akan ilmu tak mengenal usia dan gelar. Di usianya yang menginjak 52 tahun dan telah menyandang gelar profesor, Buya Yahya memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah untuk memperdalam ilmu psikologi.
"Ini adalah contoh nyata bahwa belajar tidak pernah berhenti," ungkap salah satu peserta wisuda yang hadir di acara tersebut.
Fokus pada Pengembangan Psikologi Santri
Keputusan Buya Yahya melanjutkan studi di bidang psikologi bukan tanpa tujuan. Berdasarkan informasi yang beredar, beliau saat ini sedang fokus mengembangkan biro psikologi di pondok pesantrennya untuk memantau perkembangan psikologis para santri.
"Beliau memang saat ini fokus sekali kepada ilmu psikologi. Di pondoknya ada biro psikologi yang mumpuni untuk memantau perkembangan psikologi santri-santrinya," tulis salah satu netizen di media sosial.
Langkah Buya Yahya ini menunjukkan integrasinya antara ilmu agama dan ilmu psikologi modern, sebuah pendekatan yang semakin relevan dalam pendidikan pesantren di era digital.
Prof. Yahya Zaenul Muarif Lc., Ph.D., atau yang akrab disapa Buya Yahya, membuktikan bahwa rasa haus akan ilmu tak mengenal usia dan gelar. Di usianya yang menginjak 52 tahun dan telah menyandang gelar profesor, Buya Yahya memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah untuk memperdalam ilmu psikologi.
"Ini adalah contoh nyata bahwa belajar tidak pernah berhenti," ungkap salah satu peserta wisuda yang hadir di acara tersebut.
Fokus pada Pengembangan Psikologi Santri
Keputusan Buya Yahya melanjutkan studi di bidang psikologi bukan tanpa tujuan. Berdasarkan informasi yang beredar, beliau saat ini sedang fokus mengembangkan biro psikologi di pondok pesantrennya untuk memantau perkembangan psikologis para santri.
"Beliau memang saat ini fokus sekali kepada ilmu psikologi. Di pondoknya ada biro psikologi yang mumpuni untuk memantau perkembangan psikologi santri-santrinya," tulis salah satu netizen di media sosial.
Langkah Buya Yahya ini menunjukkan integrasinya antara ilmu agama dan ilmu psikologi modern, sebuah pendekatan yang semakin relevan dalam pendidikan pesantren di era digital.