home edukasi & pesantren

Budaya Bukan Sekadar Seni Tradisional tapi Sarana Mengasah Potensi Kemanusiaan Jadi Insan Kamil

Senin, 27 September 2021 - 08:31 WIB
Figur Semar dalam wayang kulit, kerap kali memiliki makna yang mengajarkan bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupannya sebagai manusia sejati (foto: langit7.id/istock))
Budaya seringkali dipahami hanya sebagai lagu daerah hingga tarian tradisional. Kebudayaan telah identik bahkan disamakan total dengan tradisi pertunjukkan. Berbudaya dimaknai hanya melestarikan berbagai kesenian dan tradisi warisan nenek moyang.

Budayawan Muda Irfan Afifi, dalam pidato kebudayaannya yang digelar oleh Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara pada Ahad (26) malam di Yogyakarta, menegaskan pemaknaan budaya yang lebih komprehensif. Menurutnya, budaya tak semata kesenian atau pertunjukan, tapi lebih dari itu, ia adalah sarana untuk mengolah dan mengasah segala potensi kemanusiaan untuk bisa mencapai kualitas manusia terbaik.

“Sejauh lacakan saya terkait term budaya dalam khasanah tradisi, kata atau istilah ini sering atau bahkan selalu tampil dalam bentuk kata kerjanya: 'ambudi daya' atau dalam kata “budya” yang sebenarnya berkembang, dalam kasus Jawa, di era Jawa masa pertengahan (abad 16-19), alias kita tidak menemukan kata kerjanya di masa Jawa Kuno dimana pada kamus Jawa Kuna-nya Zoetmoelder kita hanya menemukaan kata Buddhi sebagai kata benda.Sementara dalam referensi lain, ia merupakan term yang telah dipercanggih oleh kedatangan sistem pandangan dunia baru Islam untuk menyorongkankan sebuah gagasan baru yang telah diperkembangkan,” tutur penulis buku Saya, Jawa dan Islam ini.

Menurut Irfan, berbicara kebudayaan, tak bisa lepas dari pandangan Islam. Sebab Islam telah memperkaya khazanah kebudayaan di nusantara. Irfan mencontohkan pengertian budaya yang tercantum dalam Serat Wedhatama. Ia menemukan kata ‘budya’ atau ‘amasah mesu budi’ yang intinya usaha untuk ‘men-daya-kan budi’ kemanusian kita.

Budhi atau ‘Budi’, terang Irfan, bukan hanya merujuk akal pikiran semata, alih-alih semata otak fisik, melainkan justru menunjuk keseluruhan kesatuan fakultas jasadi-ruhani manusia yang berjumlah empat, yakni (1) Raga atau Karsa alias kehendak dan keinginan, (2) Cipta atau Kalbu, fakultas pikiran, imajinasi dan daya ciptanya, (3) Jiwa, tempatnya niat, tekad, dan dorongan terdalam, dan yang ke-(4) Rasa, fakultas estetik dan dorongan empati moral yang terdalam.

Baca Juga:Komunitas Pegon, Sejarawan Milenial Nahdlatul Ulama dari Ujung Timur Jawa

“Oleh karenanya secara singkat dikatakan, proses berbudaya atau proses berkebudayaan adalah juga secara serentak sekaligus proses berkemanusiaan; Sebuah proses untuk mengutuhkan dan mengaktualkan seluruh potensi yang dimiliki manusia, yang memang secara fitrah kemanusiaannya, selain di satu sisi pada realitas terdalam kemanusiaannya tersambung dengan realitas ketuhanan, maupun di sisi yang lain secara fitrah kemanusiaannya memang berkecenderungan menuruti dorongan terberi dalam diri terdalamnya bernama keindahan, kebaikan, kebenaran, dan kesempurnaan, bahkan sebelum ia memiliki dan menganut agama tertentu.” terang alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada ini.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
budaya budaya indonesia warisan budaya
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya