Keutamaan Selalu Ingat Allah SWT, Berdzikir Meski Hati Lalai
Fajar adhitya
Senin, 27 September 2021 - 10:02 WIB
Dzikir, mengingat Allah SWT adalah keharusan seorang hamba (Ilustrasi) Foto: Langit7.id/IStock
Perintah mengingat Allah SWT banyak disebut dalam Al Qur'an dan Hadits. Mengingat Allah bagi seorang yang beriman hakikatnya adalah wajib, sebab ibadah shalat lima waktu bertujuan untuk mengingat Allah, menomorsatukan Sang Khalik dan meletakkan dunia di belakang.
Namun itu adalah kadar paling sedikit. Sebaliknya Rasulullah SAW mengajarkan sekian shalat sunnah, dzikir pagi dan petang, hingga dzikir dalam berbagai keadaan.
Ini menunjukkan hamba harus senantiasa mengingat Penciptanya. Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi Ulil Albab (orang yang berakal), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (Q.S. Ali 'Imran : 190-191)
Ayat itu juga menekankan derajat atau kedudukan seorang hamba di depan Allah adalah seberapa ia mengingat Allah. Tentu ini adalah perkara yang hanya bisa dinilai oleh Allah SWT bukan untuk dihakimi oleh manusia.
Rasulullah SAW pernah bersabda, "Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Sesungguhnya, Allah menempatkan (mendudukan) hamba-Nya, sebagaimana hamba itu mendudukkan Allah dalam jiwanya (hatinya)." (HR Al Hakim).
Salah satu cara mudah mengingat Allah adalah seperti tuntunan QS. Ali Imran 190. yakni dalam setiap keadaan, berdiri, duduk atau berbaring dengan lisan maupun dengan batin, mengucapkan kalimat-kalimat puji-pujian terhadap Allah SWT.
Namun itu adalah kadar paling sedikit. Sebaliknya Rasulullah SAW mengajarkan sekian shalat sunnah, dzikir pagi dan petang, hingga dzikir dalam berbagai keadaan.
Ini menunjukkan hamba harus senantiasa mengingat Penciptanya. Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi Ulil Albab (orang yang berakal), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (Q.S. Ali 'Imran : 190-191)
Ayat itu juga menekankan derajat atau kedudukan seorang hamba di depan Allah adalah seberapa ia mengingat Allah. Tentu ini adalah perkara yang hanya bisa dinilai oleh Allah SWT bukan untuk dihakimi oleh manusia.
Rasulullah SAW pernah bersabda, "Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Sesungguhnya, Allah menempatkan (mendudukan) hamba-Nya, sebagaimana hamba itu mendudukkan Allah dalam jiwanya (hatinya)." (HR Al Hakim).
Salah satu cara mudah mengingat Allah adalah seperti tuntunan QS. Ali Imran 190. yakni dalam setiap keadaan, berdiri, duduk atau berbaring dengan lisan maupun dengan batin, mengucapkan kalimat-kalimat puji-pujian terhadap Allah SWT.