Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home masjid detail berita

Keutamaan Selalu Ingat Allah SWT, Berdzikir Meski Hati Lalai

fajar adhitya Senin, 27 September 2021 - 10:02 WIB
Keutamaan Selalu Ingat Allah SWT, Berdzikir Meski Hati Lalai
Dzikir, mengingat Allah SWT adalah keharusan seorang hamba (Ilustrasi) Foto: Langit7.id/IStock
LANGIT7.ID - Perintah mengingat Allah SWT banyak disebut dalam Al Qur'an dan Hadits. Mengingat Allah bagi seorang yang beriman hakikatnya adalah wajib, sebab ibadah shalat lima waktu bertujuan untuk mengingat Allah, menomorsatukan Sang Khalik dan meletakkan dunia di belakang.

Namun itu adalah kadar paling sedikit. Sebaliknya Rasulullah SAW mengajarkan sekian shalat sunnah, dzikir pagi dan petang, hingga dzikir dalam berbagai keadaan.

Ini menunjukkan hamba harus senantiasa mengingat Penciptanya. Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi Ulil Albab (orang yang berakal), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (Q.S. Ali 'Imran : 190-191)

Ayat itu juga menekankan derajat atau kedudukan seorang hamba di depan Allah adalah seberapa ia mengingat Allah. Tentu ini adalah perkara yang hanya bisa dinilai oleh Allah SWT bukan untuk dihakimi oleh manusia.

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Sesungguhnya, Allah menempatkan (mendudukan) hamba-Nya, sebagaimana hamba itu mendudukkan Allah dalam jiwanya (hatinya)." (HR Al Hakim).

Salah satu cara mudah mengingat Allah adalah seperti tuntunan QS. Ali Imran 190. yakni dalam setiap keadaan, berdiri, duduk atau berbaring dengan lisan maupun dengan batin, mengucapkan kalimat-kalimat puji-pujian terhadap Allah SWT.

Namun kerap kali dalam upaya mengingat Allah, hamba berdzikir tidak dengan hati yang hadir.

Bagaimana berzikir, tetapi hati dalam kondisi lalai? Mulut berkomat-kamit, tetapi tanpa kehadiran jiwa?

Terkait dengan hal ini, Syaikh Ibnu ‘Athaillah rahimahullah menerangkan beberapa tingkatan zikir:

“Jangan tinggalkan zikir, sekalipun hatimu tak bisa berkonsentrasi ketika berzikir. Sesungguhnya kelalaianmu terhadap Allah ketika tidak berzikir lebih buruk ketimbang kelalaianmu terhadap Allah ketika berzikir,".

"Mudah-mudahan Allah berkenan mengangkatmu dari zikir penuh kelalaian menuju zikir penuh kesadaran dan dari zikir penuh kesadaran menuju zikir yang disemangati kehadiran-Nya, dan dari zikir yang disemangati kehadiran-Nya menuju zikir yang meniadakan segala selain-Nya. Itu tidaklah sulit bagi Allah.”

Ulama besar pengarang "Kitab Ihya Ulumuddin", Syaikh Muhammad al-Ghazali (ulama Mesir) dalam bukunya, "Segarkan Imanmu", mengomentari perkataan Syekh Ibnu Athaillah tersebut.

Beliau mengatakan bahwa meskipun seseorang, umpamanya, hanya dapat melakukan zikir lisan tanpa konsentrasi, itu lebih baik daripada diam sama sekali.

Sebab, zikir itu berarti menyibukkan salah satu anggota badan kita dengan taat kepada Allah. Dan kesibukan ini—betapa pun kecilnya—bisa menghalangi maksiat.

Orang yang selalu mengingat Allah cenderung berhati-hati supaya terhindar dari perbuatan maksiat. Kalaupun tergelincir, dia segera terpanggil untuk bertobat dan memohon ampunan kepada-Nya

Ini lantaran setiap dzikir memiliki 'sirr" atau rahasia tersembunyi dan 'sirr' tersebut yang seiring waktu melunakkan dan menuntun hati yang mungkin saat itu 'lalai' untuk lebih 'hadir' ketika mengingat Allah. Hati yang hadir akan mendorong hamba lebih dekat dan taat.

Tentu, proses itu akan semakin sulit jika seseorang tidak membiasakan diri berdzikir pada Allah SWT.

Wallahu'alam

(arp)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)