home edukasi & pesantren

Makna Mendalam Innama Al-a‘malu bi Al-niyyat: Amal Perlu Dikritisi

Kamis, 15 Mei 2025 - 04:15 WIB
Niat amat menentukan amal seseroang. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dengan mengatakan innama al-a‘mālu bi al-niyyāt (amal ditentukan oleh niatnya), sesungguhnya Nabi Muhammad SAW sedang mengajarkan prinsip dasar bagaimana suatu amal perlu dikritisi atau, dalam istilah manajemen, dievaluasi.

"Niat, sebagaimana diketahui, adalah kesadaran tentang tujuan dari suatu amal. Amal sendiri memiliki dua dimensi: pertama, yang bersifat internal dan personal; kedua, yang bersifat eksternal dan sosial," ujar KH Masdar F. Mas'udi dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam" bab "Telaah Kritis atas Teologi Muktazilah" (Yayasan Paramadina).

Tujuan amal yang bersifat "ke dalam" berpijak pada iman, sementara tujuan amal yang bersifat "ke luar" berpijak pada realitas kehidupan.

Dalam hal ini, kata Kiai Masdar, kritik terhadap amal berdasarkan niat yang bersifat internal bukanlah urusan kita. Itu adalah wilayah Tuhan dan pribadi yang bersangkutan. Waktu penilaiannya pun, menurut ajaran agama, bukan di dunia ini, melainkan di akhirat kelak.

Baca juga: Berniat Tutup Aurat, Celine Evangelista: Pakaian Tertutup Membuatku Nyaman

Menurutnya, yang berada dalam wewenang kita sebagai makhluk sosial adalah evaluasi amal dari sudut pandang niat yang bersifat sosial: mengapa suatu amal dilakukan dan dalam konteks sosial seperti apa ia terjadi.

Dalam konteks ini, innama al-a‘mālu bi al-niyyāt berarti bahwa amal terikat dan ditentukan oleh konteksnya—oleh realitas kehidupan yang melatarbelakanginya. Tak ada amal yang muncul begitu saja tanpa sebab; ia selalu merupakan hasil dari hubungan sebab-akibat yang mengitarinya. Hanya dalam kaitan sebab-akibat inilah suatu amal bisa dinilai, dikritik, atau dievaluasi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya