Ketika Pemuda Islam Mulai Menjauhkan Diri dari Pemikiran tentang Agama
Miftah yusufpati
Sabtu, 17 Mei 2025 - 05:45 WIB
John Louis Esposito. Foto: Lehigh
LANGIT7.ID-Pada saat negara Barat mengalami kemajuan dan sukses menjajah negeri Timur, para pemuda Islam mulai menjauhkan diri dari pemikiran tentang agama secara umum, termasuk risalah Islam dan Nabi Muhammad SAW.
Mereka semakin menjauh karena terpengaruh oleh ilmu pengetahuan positif dan filsafat positivisme, yang beranggapan bahwa persoalan agama berada di luar logika dan tidak termasuk dalam ranah pemikiran ilmiah.
"Segala bentuk pemikiran metafisik juga dianggap tidak sesuai dengan metode ilmiah," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" (Pustaka Jaya, 1980).
Mereka juga menyaksikan secara langsung pemisahan yang tegas antara gereja dan negara di Barat. Bahkan, sejumlah negara Barat telah menetapkan dalam konstitusinya bahwa kepala negara harus beragama Protestan atau Katolik, atau menetapkan agama resmi negara adalah Kristen.
Tujuannya, agar perayaan hari-hari besar keagamaan tidak bertambah banyak. Fenomena ini justru semakin menguatkan mereka dalam memegang pendekatan ilmiah dan menambah perhatian mereka terhadap filsafat, ilmu pengetahuan, dan budaya.
Baca juga: Pemerintahan dan Masyarakat Islam Menurut John Louis Esposito
Ketika para pemuda ini memasuki dunia nyata dan kehidupan praktis, kesibukan membuat mereka semakin jauh dari pemikiran-pemikiran keagamaan yang dulu telah mereka tinggalkan.
Mereka semakin menjauh karena terpengaruh oleh ilmu pengetahuan positif dan filsafat positivisme, yang beranggapan bahwa persoalan agama berada di luar logika dan tidak termasuk dalam ranah pemikiran ilmiah.
"Segala bentuk pemikiran metafisik juga dianggap tidak sesuai dengan metode ilmiah," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" (Pustaka Jaya, 1980).
Mereka juga menyaksikan secara langsung pemisahan yang tegas antara gereja dan negara di Barat. Bahkan, sejumlah negara Barat telah menetapkan dalam konstitusinya bahwa kepala negara harus beragama Protestan atau Katolik, atau menetapkan agama resmi negara adalah Kristen.
Tujuannya, agar perayaan hari-hari besar keagamaan tidak bertambah banyak. Fenomena ini justru semakin menguatkan mereka dalam memegang pendekatan ilmiah dan menambah perhatian mereka terhadap filsafat, ilmu pengetahuan, dan budaya.
Baca juga: Pemerintahan dan Masyarakat Islam Menurut John Louis Esposito
Ketika para pemuda ini memasuki dunia nyata dan kehidupan praktis, kesibukan membuat mereka semakin jauh dari pemikiran-pemikiran keagamaan yang dulu telah mereka tinggalkan.