Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home masjid detail berita

Ketika Pemuda Islam Mulai Menjauhkan Diri dari Pemikiran tentang Agama

miftah yusufpati Sabtu, 17 Mei 2025 - 05:45 WIB
Ketika Pemuda Islam Mulai Menjauhkan Diri dari Pemikiran tentang Agama
John Louis Esposito. Foto: Lehigh
LANGIT7.ID-Pada saat negara Barat mengalami kemajuan dan sukses menjajah negeri Timur, para pemuda Islam mulai menjauhkan diri dari pemikiran tentang agama secara umum, termasuk risalah Islam dan Nabi Muhammad SAW.

Mereka semakin menjauh karena terpengaruh oleh ilmu pengetahuan positif dan filsafat positivisme, yang beranggapan bahwa persoalan agama berada di luar logika dan tidak termasuk dalam ranah pemikiran ilmiah.

"Segala bentuk pemikiran metafisik juga dianggap tidak sesuai dengan metode ilmiah," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" (Pustaka Jaya, 1980).

Mereka juga menyaksikan secara langsung pemisahan yang tegas antara gereja dan negara di Barat. Bahkan, sejumlah negara Barat telah menetapkan dalam konstitusinya bahwa kepala negara harus beragama Protestan atau Katolik, atau menetapkan agama resmi negara adalah Kristen.

Tujuannya, agar perayaan hari-hari besar keagamaan tidak bertambah banyak. Fenomena ini justru semakin menguatkan mereka dalam memegang pendekatan ilmiah dan menambah perhatian mereka terhadap filsafat, ilmu pengetahuan, dan budaya.

Baca juga: Pemerintahan dan Masyarakat Islam Menurut John Louis Esposito

Ketika para pemuda ini memasuki dunia nyata dan kehidupan praktis, kesibukan membuat mereka semakin jauh dari pemikiran-pemikiran keagamaan yang dulu telah mereka tinggalkan.

Arus pemikiran mereka tetap mengikuti jalur awal: memandang kebekuan berpikir dengan sinisme dan kasihan. Mereka terus menyerap pemikiran dan filsafat Barat yang terasa begitu memikat, hingga mereka semakin kagum dan mantap dengan apa yang telah mereka pelajari.

Tak bisa dipungkiri, saat ini dunia Timur memang sangat membutuhkan pengaruh cara berpikir Barat, khususnya dalam ilmu pengetahuan dan budaya.

Dunia Islam di Timur kini telah terputus dari kejayaan Islam masa lalu, akibat kebekuan berpikir dan fanatisme yang berlangsung berabad-abad.

Cara berpikir sehat masa lalu telah tertimbun oleh kebodohan dan prasangka terhadap hal-hal baru. Maka satu-satunya jalan untuk membebaskan diri dari semua itu adalah dengan bersandar pada bentuk-bentuk pemikiran modern, agar dapat menghubungkan masa kini yang cerah dengan warisan gemilang dari masa silam.

Usaha-Usaha Modernisasi Dunia Islam

Sudah selayaknya kita mengakui bahwa penelitian-penelitian bernilai tinggi dari para sarjana Barat tentang sejarah dan studi Islam serta Dunia Timur telah membuka jalan baru bagi para pemuda Islam dan Timur untuk memperluas bahan kajian mereka.

Harapan untuk menemukan kebenaran pun menjadi lebih besar. Dengan pendekatan ini, mereka dapat lebih memahami jiwa Islam dan jiwa Timur. Karena orientasi baru ini berasal dari Barat, maka para pemuda harus mengikutinya, sembari melakukan koreksi atas kekeliruan yang ada dan menanamkan semangat sejarah yang hidup hingga masa kini.

Baca juga: John L. Esposito: Apa yang Dibawa Nabi Muhammad Lebih dari Sekadar Sintesis

Kajian ini tidak hanya perlu dilakukan sebagai bentuk penelitian, tapi juga sebagai warisan rohani dan mental yang harus dijaga oleh generasi penerus. Pencerahan perlu ditingkatkan agar kebenaran yang tersembunyi menjadi semakin terang.

Saat ini, banyak pemuda yang melakukan penelitian dengan metode ilmiah yang sesungguhnya. Bahkan, kalangan orientalis pun mendukung dan menghargai kontribusi mereka.

Misi Penginjil dan Golongan yang Berpikiran Beku

Di tengah lahirnya kerja sama ilmiah yang seharusnya menghasilkan manfaat besar, muncul pula serangan dari kalangan gereja Kristen terhadap Islam dan Nabi Muhammad, tak kalah tajamnya dari yang disebutkan sebelumnya.

Selain itu, imperialisme Barat juga turut mendukung kegiatan ini dengan segala kekuatannya, atas nama kebebasan berpikir. Padahal, para penyerang ini justru telah meninggalkan negeri asal mereka dan tidak lagi mewakili semangat keimanan dari saudara seagama mereka sendiri.

Baca juga: Esposito: Muhammad Mengajak Orang Kembali kepada Agama Ibrahim

Ironisnya, para pengusung kebekuan berpikir (jumud) di kalangan umat Islam juga mendapat sokongan dari imperialisme. Tangan kekuasaan ini pula yang mendorong masuknya berbagai hal asing ke dalam Islam—yang sejatinya bukan bagian darinya—serta kisah-kisah tak masuk akal dalam sejarah Rasulullah.

Mereka mendorong segala bentuk kritik terhadap Islam dan Nabi Muhammad dengan menyusupkan cerita-cerita palsu ke dalam sejarah Islam, yang bertentangan dengan akal dan nurani.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)