Kangen Zainuddin MZ: Indonesia Ibarat 5 Jari, Saling Melengkapi
Ahmad zuhdi
Rabu, 29 September 2021 - 22:01 WIB
Ilustrasi jari jemari tengah menengadah berdoa kepada Allah SWT. Foto: Langit7.id/iStock
Bangsa Indonesia dengan heterogenitas (keberagaman) yang tinggi dalam segala hal, tetap berada dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Masing-masing daerah, suku, dan budaya saling melengkapi antara satu dan lainnya.
Dai kondang almarhum KH Zainuddin MZ dalam salah satu ceramahnya mengibaratkan bahwa bangsa Indonesia seperti lima jari. Kelima jari tersebut memiliki peran dan fungsi berbeda, namun tetap saling melengkapi.
Baca Juga:Kangen Zainuddin MZ: Takut Mati Cinta Dunia Bukti Tak Punya Bekal Akhirat
"Kalau kompak apa yang tidak terpegang, tapi kalau sudah terpecah, segalanya tidak bisa terpegang. Ibu jari ini namanya umara atau pemerintah, kerja apa saja kalau bagus akan diapresiasi, tapi kalau tidak baik akan seperti ini," ujar dia seraya mengacungkan jempol dan membalikkan dalam salah satu ceramahnya, dikutip Rabu (29/9/2021).
Kemudian selanjutnya telunjuk. Kiai Kondang ejuta Ummat itu mengibaratkan telunjuk adalah para pengusaha, ekonom, investor, dan para pemilik modal besar lainnya. "Kita perlu mereka untuk meningkatkan perekonomian, kalau orang sugih (kaya) sudah nunjuk, kelar urusan. Tapi kalau yang melarat nunjuk-nunjuk, bisa repot nanti," katanya berkelakar.
"Makanya kata orang serba salah jadi orang susah, tapi lebih susah jadi orang serba salah.Itulah telunjuk," ungkapnya.
Berikutnya adalah jari tengah. Dia bersifat netral dan ada di semua kalangan, tidak di kanan dan tidak juga di kiri, di antaranya TNI, cendekiawan, dan juga ulama. Mereka tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana.
Dai kondang almarhum KH Zainuddin MZ dalam salah satu ceramahnya mengibaratkan bahwa bangsa Indonesia seperti lima jari. Kelima jari tersebut memiliki peran dan fungsi berbeda, namun tetap saling melengkapi.
Baca Juga:Kangen Zainuddin MZ: Takut Mati Cinta Dunia Bukti Tak Punya Bekal Akhirat
"Kalau kompak apa yang tidak terpegang, tapi kalau sudah terpecah, segalanya tidak bisa terpegang. Ibu jari ini namanya umara atau pemerintah, kerja apa saja kalau bagus akan diapresiasi, tapi kalau tidak baik akan seperti ini," ujar dia seraya mengacungkan jempol dan membalikkan dalam salah satu ceramahnya, dikutip Rabu (29/9/2021).
Kemudian selanjutnya telunjuk. Kiai Kondang ejuta Ummat itu mengibaratkan telunjuk adalah para pengusaha, ekonom, investor, dan para pemilik modal besar lainnya. "Kita perlu mereka untuk meningkatkan perekonomian, kalau orang sugih (kaya) sudah nunjuk, kelar urusan. Tapi kalau yang melarat nunjuk-nunjuk, bisa repot nanti," katanya berkelakar.
"Makanya kata orang serba salah jadi orang susah, tapi lebih susah jadi orang serba salah.Itulah telunjuk," ungkapnya.
Berikutnya adalah jari tengah. Dia bersifat netral dan ada di semua kalangan, tidak di kanan dan tidak juga di kiri, di antaranya TNI, cendekiawan, dan juga ulama. Mereka tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana.