Penjelasan Imam al-Ghazali tentang Hal-Hal yang Baik Itu Abadi
Miftah yusufpati
Selasa, 10 Juni 2025 - 17:10 WIB
Semua derita yang ditanggung oleh jiwa setelah mati bersumber pada cinta yang berlebih-lebihan terhadap dunia. Ilustrasi: Ist
LANGT7.ID-Imam al-Ghazali mengatakan jiwa manusia dari jasad dan anggota-anggotanya sangat berbeda. Setiap anggota tubuh bisa rusak dan berhenti bekerja, tapi individualitas jiwa tak terganggu. Lebih jauh lagi, jasad yang Anda miliki sekarang tidak lagi berupa jasad sebagaimana yang Anda miliki pada waktu kecil, melainkan sudah berbeda sama sekali.
"Meskipun demikian, kepribadian Anda sekarang ini sama dengan pada waktu itu," tutur Imam al-Ghazali dalam bukunya berjudul "The Alchemy of Happiness" yang diterjemahkan Haidar Bagir menjadi "Kimia Kebahagiaan" (Mizan, 1979).
Oleh karena itu, sangat mudahlah untuk membayangkannya sebagai terus ada bersama-sama sifat-sifat esensialnya yang tak tergantung pada tubuh, seperti pengetahuan dan cinta akan Tuhan.
Inilah arti ayat al-Qur'an, "hal-hal yang baik itu abadi." Tetapi, jika sebaliknya daripada membawa pengetahuan bersama anda, anda malah menyeleweng dalam kejahilan tentang Allah.
Kejahilan ini juga merupakan suatu sifat esensial dan akan tinggal abadi bagai kegelapan jiwa dan benih kesedihan. Oleh karena itu, al-Qur'an berkata, "Orang yang buta di dalam hidup ini akan buta di akhirat dan tersesat dari jalan yang lurus."
Alasan bagi kembalinya roh manusia yang sedang kita bicarakan ini merujuk ke dunia yang lebih tinggi adalah bahwa ia berasal dari sana dan bahwa ia bersifat malaikat.
Baca juga: 2 Jiwa Manusia: Hewani dan Rohani, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali
"Meskipun demikian, kepribadian Anda sekarang ini sama dengan pada waktu itu," tutur Imam al-Ghazali dalam bukunya berjudul "The Alchemy of Happiness" yang diterjemahkan Haidar Bagir menjadi "Kimia Kebahagiaan" (Mizan, 1979).
Oleh karena itu, sangat mudahlah untuk membayangkannya sebagai terus ada bersama-sama sifat-sifat esensialnya yang tak tergantung pada tubuh, seperti pengetahuan dan cinta akan Tuhan.
Inilah arti ayat al-Qur'an, "hal-hal yang baik itu abadi." Tetapi, jika sebaliknya daripada membawa pengetahuan bersama anda, anda malah menyeleweng dalam kejahilan tentang Allah.
Kejahilan ini juga merupakan suatu sifat esensial dan akan tinggal abadi bagai kegelapan jiwa dan benih kesedihan. Oleh karena itu, al-Qur'an berkata, "Orang yang buta di dalam hidup ini akan buta di akhirat dan tersesat dari jalan yang lurus."
Alasan bagi kembalinya roh manusia yang sedang kita bicarakan ini merujuk ke dunia yang lebih tinggi adalah bahwa ia berasal dari sana dan bahwa ia bersifat malaikat.
Baca juga: 2 Jiwa Manusia: Hewani dan Rohani, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali