home masjid

Bangunan Batu, Jiwa yang Terlupa: Kritik Al-Qardhawi atas Umat yang Salah Menimbang Amal

Ahad, 15 Juni 2025 - 05:45 WIB
Kita sedang sibuk membangun batu, tapi lupa membentuk manusia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah gegap gempita pembangunan masjid megah dan perburuan pahala lewat ibadah sunnah, Syaikh Yusuf al-Qardhawi menyodorkan sebuah cermin retak untuk umat Islam: kita sedang sibuk membangun batu, tapi lupa membentuk manusia.

Dalam bukunya Fiqh Prioritas: Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah(Robbani Press, 1996), ulama asal Mesir itu menumpahkan keresahan panjang. Umat, kata al-Qardhawi, terjebak dalam kekacauan timbangan amal. Yang utama disingkirkan, yang sekunder diagung-agungkan. Mereka menyumbang miliaran rupiah untuk membangun masjid di kota yang masjidnya sudah berjajar. Tapi ketika diminta menyumbang untuk dakwah, pendidikan, atau menerbitkan buku-buku Islam, mereka mendadak tuli.

“Lebih percaya membangun batu ketimbang membangun manusia,” tulisnya tajam.

Tak hanya di bidang filantropi. Penyimpangan itu menjalar ke dimensi ibadah. Ribuan orang kaya rela menghabiskan biaya besar untuk haji berulang atau umrah Ramadhan. Padahal kewajiban haji hanya sekali. Sementara jutaan Muslim di Palestina, Bosnia, Bangladesh, dan Afrika menggigil dalam kekurangan. Dakwah kekurangan dai. Percetakan Islam kehabisan dana. Tapi umat lebih suka mengejar pahala privat ketimbang kewajiban kolektif.

Baca juga: Hukum Lukisan dan Ukiran Menurut Syaikh Al-Qardhawi

Yusuf al-Qardhawi menyebut semua ini sebagai akibat dari minimnya fiqh—pemahaman mendalam—dalam menimbang prioritas amal. “Mereka menyibukkan diri dengan perbuatan yang tidak kuat (marjuh) dan menganggapnya sebagai amalan yang kuat (rajih),” katanya. Bahkan yang ikhlas sekalipun, tanpa ilmu, bisa salah meletakkan skala amal.

Pernyataan al-Qardhawi bukan semata kritik sosial. Ia mendasarkan argumennya pada Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 19–21. Allah menegaskan bahwa memberi minum jamaah haji dan mengurus Masjidil Haram tidak sebanding dengan jihad dan perjuangan di jalan Allah. “Mereka tidak sama di sisi Allah,” tegas ayat itu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya