Mencari Bahtera di Tubuh Gunung: Misteri Durupinar dan Jejak Nabi Nuh
Miftah yusufpati
Sabtu, 21 Juni 2025 - 16:09 WIB
Peristiwa Bahtera Nuh mempunyai arti penting dalam tiga agama besar: Kristen, Yudaisme, dan Islam. Ilustrasi: Arab News
LANGIT7.ID-Di lereng berbatu Gunung Ararat, tepatnya di formasi Durupinar yang terletak kurang dari dua mil dari perbatasan Iran, segelintir peneliti masih setia menggali harapan. Harapan bahwa batu-batu besar dan tanah liat yang mereka angkut perlahan ini—bisa saja—adalah sisa-sisa dari kapal paling terkenal dalam sejarah umat manusia: Bahtera Nabi Nuh.Tim Peneliti Gunung Ararat dan Bahtera Nuh, kolaborasi lintas negara yang melibatkan tiga universitas dari Turki dan Amerika Serikat, sejak 2021 menggali tanah dan sejarah di kaki Gunung Ararat. Meski sinisme mengiringi tiap jejak sekop mereka, semangat mereka tak runtuh.
"Kami menemukan endapan bahan tanah liat, sisa laut, bahkan jejak makanan laut," kata Prof Faruk Kaya, Wakil Rektor Agri Ibrahim Cecen University (AICU), kepada harian Hürriyet suatu ketika.Bagi para peneliti, temuan tersebut mengisyaratkan adanya aktivitas manusia di lokasi itu sejak periode Kalkolitik, antara 5500–3000 SM. Waktu yang tak jauh dari dugaan kronologi Banjir Besar yang diyakini terjadi sekitar 5.000 tahun silam.Namun, apakah benar tanah ini pernah ditimpa air bah yang menenggelamkan dunia?
Baca juga: Kisah Lamik Keturunan Nabi Idris Ternyata Ayah Nabi Nuh
Baca juga: Kisah Nabi Nuh Mengutuk Yafits: Keturunannya Jadi Makhluk yang Terjelek
"Kami menemukan endapan bahan tanah liat, sisa laut, bahkan jejak makanan laut," kata Prof Faruk Kaya, Wakil Rektor Agri Ibrahim Cecen University (AICU), kepada harian Hürriyet suatu ketika.Bagi para peneliti, temuan tersebut mengisyaratkan adanya aktivitas manusia di lokasi itu sejak periode Kalkolitik, antara 5500–3000 SM. Waktu yang tak jauh dari dugaan kronologi Banjir Besar yang diyakini terjadi sekitar 5.000 tahun silam.Namun, apakah benar tanah ini pernah ditimpa air bah yang menenggelamkan dunia?
Baca juga: Kisah Lamik Keturunan Nabi Idris Ternyata Ayah Nabi Nuh
Antara Iman dan Ilmu
Al-Qur'an mencatat bahwa kapal Nabi Nuh berlabuh di Gunung Judi (Surat Hud [11]: 44), sedangkan Kejadian 8:4 dalam Perjanjian Lama menyebutnya sebagai Gunung Ararat. Sebuah perbedaan geografis yang sempat diurai dengan jeli oleh Dr. Maurice Bucaille dalam La Bible, le Coran et la Science.Menurutnya, tidak tertutup kemungkinan nama-nama itu mengalami perubahan, bahkan rekayasa. "R. Blachère menyebut banyak tempat di Arab yang bernama Joudi, bisa jadi kesamaan nama itu buatan belaka," tulis Bucaille, sebagaimana dialihbahasakan oleh Prof. HM Rasyidi.Tapi apakah formasi Durupinar, dengan tinggi 538 kaki dan sebagian besar terdiri dari limonit, bisa menjembatani kisah spiritual dengan data ilmiah?Arkeolog dari Universitas North Carolina, Jodi Magness, skeptis. "Arkeologi bukan perburuan harta karun," ujarnya kepada National Geographic. "Ini bukan tentang memburu benda tertentu, tapi menjawab pertanyaan sejarah dengan metode ilmiah."Kritik tajam ini lahir dari pengalaman panjang menyaksikan klaim-klaim sensasional. Pada 1876, James Bryce, seorang politisi Inggris, mengaku melihat potongan kayu di Gunung Ararat. Laporan serupa muncul di 1940-an dan awal 2000-an, ketika sekelompok pendeta Injili mengklaim menemukan kayu membatu di puncak.Klaim demi klaim itu tak memuaskan para arkeolog konvensional, tetapi tetap hidup dalam imajinasi masyarakat lintas iman. Bagaimanapun, kisah Bahtera Nuh adalah cerita sakral dalam Yudaisme, Kristen, dan Islam.Durupinar bukan sekadar tempat. Ia adalah medan benturan antara legenda dan logika. Ia adalah ladang penelitian sekaligus ladang harapan. Jika batu-batu besar di sana terbukti bagian dari kapal Nabi Nuh, sejarah manusia harus ditulis ulang. Jika tidak, setidaknya pencarian ini telah mengikat sains dengan narasi yang lebih besar dari sekadar temuan arkeologis: kisah penyelamatan dan iman.Baca juga: Kisah Nabi Nuh Mengutuk Yafits: Keturunannya Jadi Makhluk yang Terjelek
(mif)