home masjid

Gunung Qasiyun dan Jejak Pembunuhan Tertua

Ahad, 22 Juni 2025 - 04:15 WIB
Sebuah pembunuhan pertama, yang dampaknya masih kita rasakan hingga hari ini. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Gunung Qasiyun, ribuan tahun sebelum para nabi diutus, sebelum manusia mengenal kerajaan, hukum, atau perang, darah pertama sudah mengalir di muka bumi. Darah itu—darah saudara sendiri—ditumpahkan oleh tangan manusia pertama yang terperdaya oleh cinta dan cemburu: Qabil, anak sulung Nabi Adam.

Peristiwa itu terjadi tak lama setelah keluarga pertama manusia mendiami bumi. Nabi Adam dan Hawa hidup dengan anak-anak kembar, laki-laki dan perempuan. Dalam satu versi yang ditulis oleh sejarawan Mesir, Muhammad bin Ahmad bin Iyas, Nabi Adam membagi tugas kepada dua anaknya: Qabil menjadi petani, sementara Habil menggembala domba.

Namun persoalan muncul bukan pada ladang atau ternak. Melainkan pada hati: Qabil jatuh cinta pada saudari kembarnya sendiri, Iqlima, perempuan cantik yang ditakdirkan menjadi istri Habil. Ia menolak untuk menikahi Layutsa, saudari Habil yang kurang menarik secara fisik.

"Dia dilahirkan bersama denganku," kata Qabil dalam kisah yang dikutip dari Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman. "Aku mencintainya."

Baca juga: Nabi Adam di Surga 100 Tahun, Diusir dan Menangis selama 70 Tahun

Nabi Adam yang bingung melihat pembangkangan anaknya, lalu meminta keduanya mempersembahkan kurban. Barang siapa yang kurbannya diterima Allah, dialah yang berhak menikahi Iqlima. Habil taat dan mempersembahkan domba terbaik dari gembalanya. Qabil, sebaliknya, hanya menyodorkan seikat gandum kering dan rusak.

Al-Qur’an mencatat momen ini dengan narasi tegas: "Ceritakanlah kepada mereka kisah dua anak Adam yang mempersembahkan kurban; maka diterima dari salah satunya dan tidak dari yang lainnya."* (QS Al-Ma’idah: 27)
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya