Bukan Seruling Setan: Membaca Ulang Musik dan Tarian dalam Laku Sufi Imam Al-Ghazali
Miftah yusufpati
Selasa, 24 Juni 2025 - 04:15 WIB
Harmoni-harmoni ini adalah gema dunia keindahan yang lebih tinggi, yang kita sebut dunia ruh. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Jika musik menghidupkan cinta Ilahi dalam dada, maka itu ibadah. Tapi jika membangkitkan syahwat semata, maka itu kehancuran. Yang menjadi soal bukan nadanya, tapi arah hatinya.
Suatu malam, seorang darwis meneteskan air mata di sudut zawiyah. Tangannya memegang tasbih, tapi tubuhnya berguncang pelan dalam alunan seruling bambu dan tabuhan daff yang menghunjam lembut. Di ruangan remang itu, gema musik tak sekadar memanjakan telinga—ia membangkitkan sesuatu yang lama tidur dalam dada: rindu kepada Tuhan.Dalam Kimia Kebahagiaan, Imam Al-Ghazali menulis bahwa hati manusia diciptakan laksana batu api. Ia menyimpan bara cinta yang bisa menyala jika disentuh oleh harmoni. “Musik tidak memberikan sesuatu yang sebelumnya tidak ada di dalam hati,” tulisnya, “melainkan hanya membangunkan emosi yang tertidur.”Dan cinta itu bisa menjelma menjadi dua wajah: yang duniawi dan syahwati, atau yang rohani dan Ilahiah.
Baca juga: Kesempurnaan Tobat dan Kontinuitasnya Menurut Imam Ghazali
Baca juga: Imam Ghazali: Puasa Tak Cukup Hanya Menahan Lapar, Dahaga, dan Hubungan Suami IstriMusik seorang haji yang melantunkan syair pujian kepada Baitullah, tulisnya, bisa membangkitkan semangat orang untuk berangkat ke Tanah Suci. Nyanyian prajurit yang memompa semangat jihad juga diperbolehkan. Bahkan, musik sendu yang membuat orang sadar akan dosanya dan ingin bertaubat, dipuji sebagai “pemukul hati” yang membangunkan kesadaran spiritual.“Jika hatimu dipenuhi cahaya, maka nyanyian hanya akan memperkuat cahayamu. Tapi jika gelap, ia hanya akan memperdalam kelamnya,” tulis Al-Ghazali.
Baca juga: 3 Unsur Tobat Menurut Imam Ghazali: Ilmu, Hal, dan Amal
Suatu malam, seorang darwis meneteskan air mata di sudut zawiyah. Tangannya memegang tasbih, tapi tubuhnya berguncang pelan dalam alunan seruling bambu dan tabuhan daff yang menghunjam lembut. Di ruangan remang itu, gema musik tak sekadar memanjakan telinga—ia membangkitkan sesuatu yang lama tidur dalam dada: rindu kepada Tuhan.Dalam Kimia Kebahagiaan, Imam Al-Ghazali menulis bahwa hati manusia diciptakan laksana batu api. Ia menyimpan bara cinta yang bisa menyala jika disentuh oleh harmoni. “Musik tidak memberikan sesuatu yang sebelumnya tidak ada di dalam hati,” tulisnya, “melainkan hanya membangunkan emosi yang tertidur.”Dan cinta itu bisa menjelma menjadi dua wajah: yang duniawi dan syahwati, atau yang rohani dan Ilahiah.
Baca juga: Kesempurnaan Tobat dan Kontinuitasnya Menurut Imam Ghazali
Cinta yang Terpantul dari Langit
Sejak berabad lalu, perdebatan soal hukum musik dalam Islam menyeruak di ruang-ruang ulama dan pesantren. Kelompok tekstualis menolaknya mentah-mentah. Musik dianggap godaan syahwat, sumber kelalaian, dan pintu setan. “Seruling iblis,” begitu istilah yang kerap mereka gunakan.Tapi para sufi menjawab dengan pengalaman batin.“Jika mendengar nyanyian membuatmu mencintai dunia, tinggalkanlah. Tapi jika ia membuatmu menangis karena dosa dan merindukan perjumpaan dengan Tuhan, maka peluklah,” tulis Al-Ghazali dalam buku Kimia Kebahagiaan, edisi berbahasa Indonesia yang diterjemahkan dari The Alchemy of Happiness (Ashraf Publication, Lahore, Mei 1979, penerjemah: Haidar Bagir, penyunting: Ahmad Muchlis).Ia bahkan mengutip dua hadis dari Sayyidah Aisyah. Dalam salah satunya, Rasulullah ﷺ membiarkan dua gadis Habsyi menari dan bernyanyi di dalam masjid pada hari raya. Ketika Abu Bakar memprotes keras, Nabi menjawab tenang: “Biarkan mereka, ini hari raya.”Nada-Nada yang Mubah dan Mustahab
Bagi Al-Ghazali, musik dan tarian bukanlah entitas tunggal yang bisa dipukul rata hukumnya. Ia membedakan antara musik yang mubah, halal, bahkan terpuji, dan yang haram jika membangkitkan syahwat murahan.Baca juga: Imam Ghazali: Puasa Tak Cukup Hanya Menahan Lapar, Dahaga, dan Hubungan Suami IstriMusik seorang haji yang melantunkan syair pujian kepada Baitullah, tulisnya, bisa membangkitkan semangat orang untuk berangkat ke Tanah Suci. Nyanyian prajurit yang memompa semangat jihad juga diperbolehkan. Bahkan, musik sendu yang membuat orang sadar akan dosanya dan ingin bertaubat, dipuji sebagai “pemukul hati” yang membangunkan kesadaran spiritual.“Jika hatimu dipenuhi cahaya, maka nyanyian hanya akan memperkuat cahayamu. Tapi jika gelap, ia hanya akan memperdalam kelamnya,” tulis Al-Ghazali.
Bukan Perkara Telinga, Tapi Jiwa
Di masa kini, perdebatan soal musik mungkin tak lagi bersuara lantang di mimbar-mimbar besar, tapi senyap dalam konten-konten dakwah digital. Satu kelompok menyodorkan potongan fatwa larangan musik; yang lain membalas dengan video qasidah, hadrah, dan zikir yang viral di TikTok.Namun perdebatan sejati tak pernah selesai di layar. Ia terjadi di dalam dada: apakah musik membuat hati mendekat, atau justru menjauh dari Sang Pencipta?Bagi Al-Ghazali, jawabannya tak pernah hitam-putih. “Musik bukan iblis, dan bukan pula malaikat. Ia adalah pintu. Apa yang masuk dari pintu itu tergantung siapa yang mengetuk.”Baca juga: 3 Unsur Tobat Menurut Imam Ghazali: Ilmu, Hal, dan Amal
(mif)