Peristiwa Muharram: Kisah Bahtera, Gunung Judi, dan Wasiat Nuh
Miftah yusufpati
Jum'at, 27 Juni 2025 - 15:16 WIB
Hari itu dikenang sebagai momen berlabuhnya bahtera Nabi Nuh setelah banjir besar yang menghapus umatnya yang durhaka. Ilustrasi AI
LANGIT7.ID-Tanggal 10 Muharram tidak hanya menjadi hari berkabung bagi sebagian umat Islam mengenang tragedi Karbala. Bagi narasi kenabian yang lebih purba, hari itu dikenang sebagai momen berlabuhnya bahtera Nabi Nuh setelah banjir besar yang menghapus umatnya yang durhaka. Peristiwa itu diabadikan dalam berbagai tafsir dan tradisi Islam, serta menjadi titik awal dari kelahiran kembali umat manusia dalam sejarah profetik.
Dalam Surat Hud ayat 44, Al-Qur’an menyebutkan secara tegas tempat berlabuh bahtera itu: “Dan difirmankan: ‘Wahai bumi! Telanlah airmu. Wahai langit! Berhentilah (menurunkan hujan)!’ Maka surutlah air dan diselesaikan urusan (banjir itu), lalu kapal itu berlabuh di atas Gunung Judi, dan dikatakan, ‘Binasalah orang-orang yang zalim.’”
Tafsir Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa Gunung Judi (atau Joudi, Judiy, dan bahkan Judd dalam transliterasi yang berbeda) dipercaya terletak di pegunungan Ararat, wilayah yang kini termasuk dalam teritori Turki. Sementara dalam Kejadian 8:4 pada Perjanjian Lama, disebutkan bahwa bahtera mendarat di “pegunungan Ararat”—sebuah sebutan geografis yang lebih umum dibandingkan lokasi spesifik seperti dalam Al-Qur’an.
Baca juga: Mencari Bahtera di Tubuh Gunung: Misteri Durupinar dan Jejak Nabi Nuh
Dr. Maurice Bucaille dalam Bibel, Quran dan Sains Modern menegaskan bahwa riwayat Qur'an tentang Gunung Judi lebih bersesuaian dengan data geografi dan arkeologi dibandingkan versi Bibel. Ia menulis bahwa “Gunung Joudi adalah puncak tertinggi dari gunung-gunung Ararat di Armenia.” Ia juga mengkritik narasi Bibel yang terlalu literal dan menyebutnya tidak konsisten dengan temuan ilmiah modern.
Namun orientalis Prancis R. Blachère bersikap lebih skeptis, menyebut bahwa bisa saja terdapat perubahan nama geografis untuk menyelaraskan narasi kitab suci. Ia mencatat banyak tempat di wilayah Arab yang dinamai “Joudi”, sehingga identifikasi menjadi sulit dan rawan spekulasi.
Air dari Langit dan Bumi
Dalam Surat Hud ayat 44, Al-Qur’an menyebutkan secara tegas tempat berlabuh bahtera itu: “Dan difirmankan: ‘Wahai bumi! Telanlah airmu. Wahai langit! Berhentilah (menurunkan hujan)!’ Maka surutlah air dan diselesaikan urusan (banjir itu), lalu kapal itu berlabuh di atas Gunung Judi, dan dikatakan, ‘Binasalah orang-orang yang zalim.’”
Tafsir Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa Gunung Judi (atau Joudi, Judiy, dan bahkan Judd dalam transliterasi yang berbeda) dipercaya terletak di pegunungan Ararat, wilayah yang kini termasuk dalam teritori Turki. Sementara dalam Kejadian 8:4 pada Perjanjian Lama, disebutkan bahwa bahtera mendarat di “pegunungan Ararat”—sebuah sebutan geografis yang lebih umum dibandingkan lokasi spesifik seperti dalam Al-Qur’an.
Baca juga: Mencari Bahtera di Tubuh Gunung: Misteri Durupinar dan Jejak Nabi Nuh
Dr. Maurice Bucaille dalam Bibel, Quran dan Sains Modern menegaskan bahwa riwayat Qur'an tentang Gunung Judi lebih bersesuaian dengan data geografi dan arkeologi dibandingkan versi Bibel. Ia menulis bahwa “Gunung Joudi adalah puncak tertinggi dari gunung-gunung Ararat di Armenia.” Ia juga mengkritik narasi Bibel yang terlalu literal dan menyebutnya tidak konsisten dengan temuan ilmiah modern.
Namun orientalis Prancis R. Blachère bersikap lebih skeptis, menyebut bahwa bisa saja terdapat perubahan nama geografis untuk menyelaraskan narasi kitab suci. Ia mencatat banyak tempat di wilayah Arab yang dinamai “Joudi”, sehingga identifikasi menjadi sulit dan rawan spekulasi.
Air dari Langit dan Bumi