home masjid

Nabi Yunus di Perut Ikan, Duka yang Diselamatkan pada Asyura

Ahad, 29 Juni 2025 - 05:45 WIB
Nabi Yunus yang pemarah berubah menjadi nabi yang diselamatkan karena doa dan taubat. Ilustrasi: Ist
LANIT7.ID- Nabi Yunus dihukum karena marah dan meninggalkan kaumnya. Dalam gelap lautan, gelap malam, dan gelap perut ikan, ia belajar bahwa pengampunan Allah lebih besar daripada rasa kecewa manusia. Peristiwa itu diyakini terjadi di hari Asyura, 10 Muharram.

Pada malam gelap tanpa bulan, jauh di dasar samudra, seekor paus membawa seorang manusia dalam perutnya. Bukan manusia biasa. Dia adalah Yunus bin Matta, seorang nabi yang sedang belajar tentang batas kesabaran dan keluasan ampunan. Di tengah tiga kegelapan—malam, laut, dan isi perut ikan—ia bersujud bukan di atas tanah, tapi dalam kehampaan, memanjatkan doa dari kedalaman nurani yang terluka.

Inilah peristiwa yang dipercaya terjadi pada 10 Muharram. Hari yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai Asyura. Di hari itu, bukan hanya darah tumpah di Karbala, tetapi juga ada doa yang menembus dasar laut dan membuka pintu langit.

Nabi Yunus, dalam Al-Qur’an, digambarkan sebagai "Shāhib al-Ḥūt"—sahabat ikan. Ia dikenal sebagai nabi yang pergi meninggalkan umatnya dalam keadaan marah. Ia kecewa, frustrasi karena dakwahnya tak diindahkan. Ia memutuskan untuk menyerah. Bukan hanya pada umatnya, tapi hampir saja pada hidupnya sendiri.

“Janganlah kamu seperti orang yang berada dalam perut ikan ketika ia berdosa dan sedang dalam keadaan marah,” begitu pesan Allah kepada Nabi Muhammad dalam Surah Al-Qalam ayat 48. Dalam tiga ayat itu (QS Al-Qalam: 48–50), Allah menyampaikan kisah dengan nada peringatan: jika bukan karena rahmat yang mendahuluinya, Yunus akan dilempar ke daratan dalam keadaan hina. Tapi Allah memilihnya dan menjadikannya dari kalangan orang-orang saleh.

Baca juga: Rahasia Doa Nabi Yunus: Kunci Terkabulnya Hajat Setelah Salat Tahajud

Doa dari Tiga Kegelapan
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya