Sahar Nakayama Muslimah Keturunan Jepang yang Tak Temui Kesulitan Berhijab
Muhajirin
Sabtu, 02 Oktober 2021 - 10:02 WIB
Sahar Nakayama. Foto: Food Diversity
Sahar Nakayama, begitu nama lengkap muslimah keturunan Jepang ini. Gadis berusia 19 tahun ini merupakan keturunan Pakistan dan Jepang yang lahir dan dibesarkan di Tokyo, Jepang.
Melansir dari laman fooddiversity, berikut cerita Sahar, muslimah keturunan Jepang di Negeri Sakura ini.
Semenjak duduk di bangku taman kanak-kanak, Sahar bersekolah di Tamana Kanak-Kanak Islam Internasional, dirinya sudah memakai hijab di usia 5 tahun. Saat ini gadis yang tengah menyelesaikan studinya di sebuah universitas di Jepang ini memiliki sudut pandang yang lebih luas sebagai orang Jepang sekaligus muslim sebagai agama minoritas di negara tersebut.
Baca Juga:Muslimah Guru Besar UGM Ini Jadi 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia
Saat dirinya masuk ke sekolah dasar negeri yang menuntut siswanya memakai seragam, dan kebanyakan tidak memakai hijab, Sahara memiliki cara sendiri tetap bersekolah dengan tetap berhijab.
Sahar mengaku dirinya berdiskusi dengan guru di sekolahnya akan kebutuhannya memakai hijab dan seragam yang menutup kulit. Dengan penjelasannya tersebut, alhamdulillah pihak sekolah memberinya keleluasaan mengenakan seragam panjang dan memakai hijab. Sehingga pendidikannya pun berjalan lancar.
Kemudian, saat Sahar melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dirinya tetap memakai hijab sebagai kesehariannya. Menurut Sahara, di tingkat SMA dirinya bersekolah di sekolah yang memberi kebebasan dalam berseragam.
Melansir dari laman fooddiversity, berikut cerita Sahar, muslimah keturunan Jepang di Negeri Sakura ini.
Semenjak duduk di bangku taman kanak-kanak, Sahar bersekolah di Tamana Kanak-Kanak Islam Internasional, dirinya sudah memakai hijab di usia 5 tahun. Saat ini gadis yang tengah menyelesaikan studinya di sebuah universitas di Jepang ini memiliki sudut pandang yang lebih luas sebagai orang Jepang sekaligus muslim sebagai agama minoritas di negara tersebut.
Baca Juga:Muslimah Guru Besar UGM Ini Jadi 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia
Saat dirinya masuk ke sekolah dasar negeri yang menuntut siswanya memakai seragam, dan kebanyakan tidak memakai hijab, Sahara memiliki cara sendiri tetap bersekolah dengan tetap berhijab.
Sahar mengaku dirinya berdiskusi dengan guru di sekolahnya akan kebutuhannya memakai hijab dan seragam yang menutup kulit. Dengan penjelasannya tersebut, alhamdulillah pihak sekolah memberinya keleluasaan mengenakan seragam panjang dan memakai hijab. Sehingga pendidikannya pun berjalan lancar.
Kemudian, saat Sahar melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dirinya tetap memakai hijab sebagai kesehariannya. Menurut Sahara, di tingkat SMA dirinya bersekolah di sekolah yang memberi kebebasan dalam berseragam.