LANGIT7.ID - , Jakarta - Sahar Nakayama, begitu nama lengkap muslimah keturunan Jepang ini. Gadis berusia 19 tahun ini merupakan keturunan Pakistan dan Jepang yang lahir dan dibesarkan di Tokyo, Jepang.
Melansir dari laman fooddiversity, berikut cerita Sahar, muslimah keturunan Jepang di Negeri Sakura ini.
Semenjak duduk di bangku taman kanak-kanak, Sahar bersekolah di Tamana Kanak-Kanak Islam Internasional, dirinya sudah memakai hijab di usia 5 tahun. Saat ini gadis yang tengah menyelesaikan studinya di sebuah universitas di Jepang ini memiliki sudut pandang yang lebih luas sebagai orang Jepang sekaligus muslim sebagai agama minoritas di negara tersebut.
Baca Juga: Muslimah Guru Besar UGM Ini Jadi 100 Tokoh Paling Berpengaruh di DuniaSaat dirinya masuk ke sekolah dasar negeri yang menuntut siswanya memakai seragam, dan kebanyakan tidak memakai hijab, Sahara memiliki cara sendiri tetap bersekolah dengan tetap berhijab.
Sahar mengaku dirinya berdiskusi dengan guru di sekolahnya akan kebutuhannya memakai hijab dan seragam yang menutup kulit. Dengan penjelasannya tersebut, alhamdulillah pihak sekolah memberinya keleluasaan mengenakan seragam panjang dan memakai hijab. Sehingga pendidikannya pun berjalan lancar.
Kemudian, saat Sahar melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dirinya tetap memakai hijab sebagai kesehariannya. Menurut Sahara, di tingkat SMA dirinya bersekolah di sekolah yang memberi kebebasan dalam berseragam.
“Tentu saja, saya tidak akan memilih sekolah yang tidak memiliki kebebasan seperti itu”, katanya.
Apakah lingkungannya mendukung Sahar berhijab? Sahar menjelaskan semua orang yang ada di sekitarnya berinteraksi secara normal. Diakui Sahar, dirinya tak pernah menghadapi masalah dan temannya menerima Sahar apa adanya.
Baca juga : Amalan untuk Muslimah selama Halangan, Tetap Bisa BeribadahDi perguruan tinggi, dia lebih memiliki kebebasan dibandingkan dengan sekolah, dia bebas memilih apa yang ingin dia pakai. Sebagai tambahan beberapa murid internasional memakai hijab di universitas sehingga semua orang sudah biasa dengan keberagaman seperti itu.
Terutama pada beberapa tahun terakhir ini, siluet longgar dan baju panjang sedang menjadi trend di Jepang, memberikan angin segar kepada Muslim untuk menemukan baju-baju Muslim-Friendly.
Mempelajari Islam di Jepang
Lahir dalam keluarga Muslim, Sahar memiliki ibu yang mengajarkan ajaran-ajaran agama Islam seperti tata cara shalat, wudhu dan sebagainya. Dirinya juga terbiasa pergi ke masjid tiap hari untuk belajar Alquran dan menambah pengetahuan tentang Islam.
Meski berada di negara dengan agama minoritas, Sahar tak mengaku kesulitan untuk menemukan cara fesyen dalam hijab. Dirinya selalu mengupdate fesyen terkini melalui kanal Youtube atau Instagram, selain belajar dari teman keluarga.
Hanya saja, Sahar mengakui masih cukup sulit melaksanakan shalat di luar ruagan. Menurut Sahar, dia bisa mengatur jam shalat diantara pelajaran-pelajaran selama kehidupan sekolahnya.
Tapi dia sulit mengatur jam shalat saat dia bekerja paruh waktu karena keterbatasan tempat dan waktu, dari pengalamannya dia harus melakukan shalar setelah jam kerjanya selesai.
Sahar lulus dari SMA dan menjadi mahasiswa universitas tepat sebelum pandemi menyerang. Kondisi ini mendorongnya untuk menantang kesempatan demi meraih banyak pengalaman sosial, seperti melakukan pekerjaan paruh waktu pertamanya, bergabung pada program intership, dan masih banyak lagi.
Baca juga : Selwa Hussain, Muslimah yang Hidup dengan Jantung Buatan di RanselnyaMemiliki sudut pandang sebagai orang Jepang sekaligus seorang Muslim, Sahar berkeinginan untuk terlibat dalam bidang pendidikan dengan beberapa cara di masa depan, seperti terlibat dalam pendidikan Islam untuk generasi kedua dari penduduk Muslim di Jepang.
“Saya ingin menjadi orang yang bisa memberikan anak-anak kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan budaya”, ujarnya.
(est)