Jalan Moral dan Tanggung Jawab Individu: Pandangan Islam tentang Perjuangan dan Penaklukan
Miftah yusufpati
Rabu, 02 Juli 2025 - 15:53 WIB
Menjadi umat terbaik bukan status pasif, tapi tugas berat yang menuntut intelektualitas, keberanian, dan ketekunan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam dunia yang dipenuhi retorika tentang perdamaian, toleransi, dan non-intervensi, pembicaraan tentang “imperialisme Islam” seolah terdengar kontras, bahkan provokatif. Namun Muhammad Asad, pemikir kelahiran Austria yang menjadi salah satu penafsir Islam paling jernih abad ke-20, mengajukan narasi tandingan yang mendalam dan sekaligus berani dalam Islam di Simpang Jalan(1935).
Menurutnya, Islam memang universal, dan karena itu menuntut partisipasi aktif dari umatnya dalam membentuk dunia yang lebih adil, lebih bermoral, dan lebih sesuai dengan prinsip-prinsip Ilahi. Tapi itu bukan imperialisme dalam pengertian modern yang penuh kerakusan dan dominasi, melainkan semacam “imperialisme moral”—yaitu tanggung jawab etis untuk menegakkan kebaikan dan memberantas keburukan di segala ruang kehidupan.
Asad membuka argumennya dengan mengacu pada ayat kunci dalam al-Qur'an: “Kamu adalah umat terbaik yang telah dilahirkan untuk manusia: kamu menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan kamu beriman kepada Allah.” (QS 3:110)
Ayat ini bukan sekadar pujian spiritual, melainkan mandat etis. Setiap Muslim, bukan hanya pemerintah atau ulama, diminta untuk menjadi agen moral yang aktif di tengah masyarakat. Tidak cukup hanya mengenal mana yang baik dan mana yang buruk; pengenalan itu sendiri menimbulkan tanggung jawab untuk bertindak.
Asad menolak gagasan moralitas pasif ala Plato—di mana pengetahuan tentang kebaikan bisa hidup berdampingan dengan ketidakpedulian praktis. Dalam pandangan Islam, tulis Asad, “moralitas hidup dan mati bersama perjuangan manusia untuk menegakkan kejayaan moralitas itu di muka bumi.”
Baca juga: Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad
Imperialisme Tanpa Rakus
Menurutnya, Islam memang universal, dan karena itu menuntut partisipasi aktif dari umatnya dalam membentuk dunia yang lebih adil, lebih bermoral, dan lebih sesuai dengan prinsip-prinsip Ilahi. Tapi itu bukan imperialisme dalam pengertian modern yang penuh kerakusan dan dominasi, melainkan semacam “imperialisme moral”—yaitu tanggung jawab etis untuk menegakkan kebaikan dan memberantas keburukan di segala ruang kehidupan.
Asad membuka argumennya dengan mengacu pada ayat kunci dalam al-Qur'an: “Kamu adalah umat terbaik yang telah dilahirkan untuk manusia: kamu menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan kamu beriman kepada Allah.” (QS 3:110)
Ayat ini bukan sekadar pujian spiritual, melainkan mandat etis. Setiap Muslim, bukan hanya pemerintah atau ulama, diminta untuk menjadi agen moral yang aktif di tengah masyarakat. Tidak cukup hanya mengenal mana yang baik dan mana yang buruk; pengenalan itu sendiri menimbulkan tanggung jawab untuk bertindak.
Asad menolak gagasan moralitas pasif ala Plato—di mana pengetahuan tentang kebaikan bisa hidup berdampingan dengan ketidakpedulian praktis. Dalam pandangan Islam, tulis Asad, “moralitas hidup dan mati bersama perjuangan manusia untuk menegakkan kejayaan moralitas itu di muka bumi.”
Baca juga: Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad
Imperialisme Tanpa Rakus