Warisan Romawi dan Tipuan Akar Barat: Di Balik Klaim Keagamaan Peradaban Modern
Miftah yusufpati
Sabtu, 05 Juli 2025 - 17:26 WIB
Islam menolak gagasan bahwa kemajuan material adalah ukuran keberhasilan manusia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di balik sinar terang pencapaian Barat modern—teknologi, ilmu pengetahuan, industrialisasi, dan standar hidup tinggi—tersembunyi warisan ideologis yang jarang dibicarakan secara jujur: sebuah akar yang bukan bersumber dari wahyu atau agama, melainkan dari jantung kebudayaan Romawi kuno yang utilitarian dan antispiritual.
Dalam pandangan tajam Muhammad Asad, kenyataan ini seringkali disamarkan oleh retorika moral Barat yang berpakaian Kristen, padahal hakikatnya lebih dekat kepada mentalitas kekaisaran yang tidak pernah mengenal Tuhan dalam arti sebenarnya.
Asad dalam buku "Islam di Simpang Jalan" yang berjudulasli Islam at the Crossroadsmenelanjangi apa yang disebut sebagai “keadilan Romawi” yang legendaris itu: bukan keadilan universal, tetapi hanya berlaku untuk warga Romawi. Keadilan yang dilandasi kepentingan politik dan ekspansi kekuasaan. Jika itu menuntut kekerasan atau ketidakadilan terhadap golongan lain, maka semua itu dianggap sah dan bahkan wajib dilakukan demi kekuatan imperium.
Peradaban Romawi, lanjut Asad, sesungguhnya tidak pernah benar-benar religius. Dewa-dewanya hanyalah “roh-roh samar” yang diambil dari mitologi Yunani, ditaruh sebagai ornamen sosial dan simbol negara. Dewa-dewa itu tak punya otoritas moral; mereka tak memberi hukum, apalagi mengarahkan tindakan etis manusia. Dalam sistem Romawi, agama adalah instrumen sosial, bukan jalan spiritual. Dan dari bumi inilah tumbuh akar dunia Barat modern.
Baca juga: Membedah Mitos: Perbedaan Hakiki Antara Imperium Islam dan Imperium Romawi
Agama yang Ditoleransi tapi Disingkirkan
Barat hari ini, meski secara formal tak menyangkal Tuhan, secara praktis telah meminggirkannya dari ranah kehidupan publik dan pertimbangan praktis. Agama ditoleransi, bahkan kadang dipuji—selama ia tetap dalam bingkai "konvensi sosial". Tetapi dalam pengambilan keputusan, dalam penyusunan hukum, dalam etika ilmu pengetahuan dan ekonomi, Tuhan bukan faktor relevan. Dalam sistem Barat modern, agama bukan lagi sumber makna, melainkan lebih mirip dengan warisan budaya yang sopan untuk dikenang, bukan untuk dijadikan dasar berpikir.
Dalam pandangan tajam Muhammad Asad, kenyataan ini seringkali disamarkan oleh retorika moral Barat yang berpakaian Kristen, padahal hakikatnya lebih dekat kepada mentalitas kekaisaran yang tidak pernah mengenal Tuhan dalam arti sebenarnya.
Asad dalam buku "Islam di Simpang Jalan" yang berjudulasli Islam at the Crossroadsmenelanjangi apa yang disebut sebagai “keadilan Romawi” yang legendaris itu: bukan keadilan universal, tetapi hanya berlaku untuk warga Romawi. Keadilan yang dilandasi kepentingan politik dan ekspansi kekuasaan. Jika itu menuntut kekerasan atau ketidakadilan terhadap golongan lain, maka semua itu dianggap sah dan bahkan wajib dilakukan demi kekuatan imperium.
Peradaban Romawi, lanjut Asad, sesungguhnya tidak pernah benar-benar religius. Dewa-dewanya hanyalah “roh-roh samar” yang diambil dari mitologi Yunani, ditaruh sebagai ornamen sosial dan simbol negara. Dewa-dewa itu tak punya otoritas moral; mereka tak memberi hukum, apalagi mengarahkan tindakan etis manusia. Dalam sistem Romawi, agama adalah instrumen sosial, bukan jalan spiritual. Dan dari bumi inilah tumbuh akar dunia Barat modern.
Baca juga: Membedah Mitos: Perbedaan Hakiki Antara Imperium Islam dan Imperium Romawi
Agama yang Ditoleransi tapi Disingkirkan
Barat hari ini, meski secara formal tak menyangkal Tuhan, secara praktis telah meminggirkannya dari ranah kehidupan publik dan pertimbangan praktis. Agama ditoleransi, bahkan kadang dipuji—selama ia tetap dalam bingkai "konvensi sosial". Tetapi dalam pengambilan keputusan, dalam penyusunan hukum, dalam etika ilmu pengetahuan dan ekonomi, Tuhan bukan faktor relevan. Dalam sistem Barat modern, agama bukan lagi sumber makna, melainkan lebih mirip dengan warisan budaya yang sopan untuk dikenang, bukan untuk dijadikan dasar berpikir.