home masjid

Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Melihat Apa Adanya

Kamis, 10 Juli 2025 - 04:15 WIB
Nasrudin membalikkan keadaan untuk menunjukkan bahwa pertanyaan itu sendiri lahir dari ketidakmampuan melihat sederhana dan jernih. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di suatu pagi yang cerah, di serambi sekolah kecilnya, Nasrudin Hoja sedang duduk menghadap para murid. Sambil menyisir jenggotnya yang sudah memutih, ia memandang mereka satu per satu, seolah hendak membongkar pikiran masing-masing.

Seorang murid yang terkenal paling rajin dan paling suka menguji gurunya mengangkat tangan.

“Guru,” katanya dengan nada serius, “manakah keberhasilan yang paling besar: orang yang bisa menundukkan sebuah kerajaan, orang yang bisa tetapi tidak mau, atau orang yang mencegah orang lain melakukan hal itu?”

Murid-murid lain menoleh, ada yang mengangguk, ada yang berbisik, karena pertanyaan itu tampaknya sangat mendalam.

Nasrudin mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu memandang murid itu dengan senyum nakal.

“Hmm…” katanya sambil mengelus dagu. “Pertanyaan yang bagus. Semua terdengar hebat. Menaklukkan kerajaan? Wah, itu menunjukkan kekuatan besar. Bisa tetapi tidak mau? Wah, itu tanda pengendalian diri. Mencegah orang lain? Itu mulia sekali. Namun…”

Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Belajar Bahasa Kurdi
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya