Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 04 September 2026
home masjid detail berita

Pelajaran Ketaatan Malaikat dan Takaburnya Iblis dalam Al-Qur'an

ahmad zuhdi Jum'at, 04 September 2026 - 14:06 WIB
Pelajaran Ketaatan Malaikat dan Takaburnya Iblis dalam Al-Qur'an
LANGIT7.ID, Jakarta; - Ayat 34 dari Surat al-Baqarah merupakan bagian penting dari rangkaian kisah penciptaan manusia pada ayat 30 hingga 39. Rangkaian ini menceritakan ujian keilmuan yang diberikan Allah ﷻ kepada Nabi Adam, dilanjutkan dengan perintah sujud kepada para malaikat, hingga peristiwa pembangkangan Iblis yang menjadi awal mula permusuhan abadi terhadap umat manusia. Ayat ini tidak hanya menegaskan posisi Nabi Adam sebagai khalifah di bumi, tetapi juga mengungkap akar penyelewengan Iblis yang dipicu oleh sifat enggan dan takabur.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al-Baqarah: 34).

Secara korelatif (munasabah), Imam al-Ṭabarī menjelaskan bahwa penggalan "Wa-idz qulnā" merupakan bentuk sambungan ('athaf) dari firman Allah sebelumnya, "Wa-idh qāla rabbuka lil-malā'ikah". Dalam konteks historis penurunannya, Allah ﷻ sedang mengingatkan kaum Bani Israil di Madinah mengenai karunia-karunia agung yang telah dilimpahkan kepada nenek moyang mereka. Allah menyeru mereka untuk mengingat kembali perbuatan dan nikmat-Nya yang sangat besar di masa lalu.

Sementara itu, Fakhr al-Dīn al-Rāzī menempatkan perintah sujud ini sebagai bentuk nikmat umum keempat yang dirasakan oleh seluruh umat manusia. Nikmat universal tersebut berupa pemuliaan Allah ﷻ terhadap asal-usul manusia, di mana Allah menjadikan Nabi Adam—sebagai ayah dari seluruh manusia—sebagai sosok yang dihormati (masjūd) oleh para malaikat.

Pada penggalan "Wa-idz qulnā lil-malā'ikati asjudū li-Ādam", Imam al-Baghawī mencatat adanya ikhtilaf di kalangan mufasir mengenai cakupan malaikat yang menerima perintah tersebut. Sebagian ulama berpendapat bahwa perintah sujud hanya ditujukan kepada malaikat penghuni bumi. Namun, pendapat yang dianggap lebih sahih (asahh) menyatakan bahwa perintah ini ditujukan kepada seluruh malaikat tanpa terkecuali, sebagaimana ditegaskan dalam Surah al-Ḥijr ayat 30 bahwa seluruh malaikat bersujud bersama-sama.

Mengenai hakikat sujud itu sendiri, para ulama membaginya ke dalam dua pandangan. Pandangan terkuat menegaskan bahwa sujud tersebut terjadi secara hakiki sebagai bentuk ketaatan mutlak kepada Allah ﷻ. Sujud ini bukanlah sujud ibadah, melainkan sujud ta'zhim (pemuliaan) dan tahiyyah (penghormatan), sebagaimana sujudnya saudara-saudara Nabi Yusuf kepadanya. Pada masa itu, penghormatan tidak dilakukan dengan meletakkan dahi di tanah, melainkan sekadar menundukkan badan (inhinā'), sebelum akhirnya syariat Islam menghapus tradisi penundukan badan tersebut dan menggantikannya dengan ucapan salam. Adapun pandangan kedua menyatakan bahwa sujud tersebut bermakna majazi, di mana Nabi Adam hanya dijadikan sebagai arah kiblat, sedangkan penghambaan sujudnya tetap ditujukan secara murni kepada Allah ﷻ.

Dari sudut pandang kebahasaan, Abū Ḥayyān al-Gharnāṭī menukil definisi dari Ibn al-Sikkīt bahwa kata sujūd secara mendasar berarti merendahkan diri (tadhallul), ketundukan (khudūʿ), atau pembungkokan (mayl). Berbeda dengan kata sajada yang bermakna meletakkan dahi di bumi, kata asjada merujuk pada gerakan menundukkan kepala dan membungkukkan badan.

Selain itu, Syekh al-Shanqīṭī memberikan kecermatan tafsir bahwa perincian perintah sujud pada Surah al-Baqarah ini bersifat mutlak tanpa menjelaskan proses terikatnya (ta'līq). Penjelasan lebih terperinci dapat ditemukan dalam Surah al-Ḥijr dan Surah Ṣād, yang menerangkan bahwa perintah sujud tersebut sejatinya telah diumumkan secara muallaq (terikat syarat), yaitu dimuliakan setelah penataan fisik Nabi Adam selesai dan ruh ciptaan Allah ditiupkan ke dalamnya.

Pada penggalan "Fa-sajadū illā Iblīs", Imam al-Ṭabarī menerangkan bahwa pengecualian (istithnā') Iblis dari barisan malaikat menunjukkan bahwa Iblis awalnya berada di tengah-tengah kelompok tersebut dan termasuk pihak yang diperintahkan untuk bersujud. Ditegaskan pula dalam Surat al-Aʿrāf bahwa Allah ﷻ secara langsung mempertanyakan alasan Iblis menolak perintah sujud tersebut.

Mengenai asal-usul Iblis, Imam al-Baghawī menukil bahwa nama asli Iblis sebelum melakukan kemaksiatan adalah ʿAzāzīl dalam bahasa Suryani dan al-Ḥārith dalam bahasa Arab. Namun, setelah ia membangkang, Allah ﷻ mengubah nama dan rupa bentuknya. Riwayat dari Ibn ʿAbbās yang dikutip oleh Ibn Katsīr memperjelas bahwa Iblis berasal dari satu golongan malaikat yang disebut al-Jinn, yang diciptakan dari api yang sangat panas (nār al-samūm), dan ia sempat dipercaya menjadi penjaga perbendaharaan surga (khāzin).

Puncak pembangkangan tersebut dirangkum dalam penggalan "Abā wastakbara wa-kāna mina al-kāfirīn". Syaikh al-Saʿdī menjelaskan bahwa penolakan (ibā') dan sikap takabur Iblis merupakan buah dari benih kekufuran yang sebenarnya sudah terpendam di dalam dirinya. Sikap enggan bersujud kepada makhluk yang diciptakan dari tanah ini seketika menyingkap permusuhan terbuka Iblis terhadap Allah ﷻ dan Nabi Adam.

Menutup kejelasan perwatakan tersebut, al-Ālūsī menjelaskan bahwa kesombongan Iblis merupakan rahasia buruk yang selama ini disembunyikannya dari hadapan para malaikat. Sementara itu, al-Biqāʿī menyoroti gaya bahasa Al-Qur'an (uslub) yang beralih dari kata ganti orang ketiga (ghaybah) menjadi kata ganti pembicara (takallum) dengan mazhar keagungan (al-ʿaẓamah). Perubahan gaya bahasa ini menegaskan bahwa perintah sujud tersebut merupakan ketetapan hukum yang sangat tegas, mutlak, dan tidak memberikan ruang sedikit pun untuk dibantah atau ditawar.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 04 September 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:12
Maghrib
17:55
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan