home masjid

Antara Rahmat dan Bahaya di Balik Pernikahan Menurut Imam Al-Ghazali

Kamis, 10 Juli 2025 - 05:45 WIB
Pernikahan, pada akhirnya, adalah ujian. Ia bisa menjadi jalan rahmat yang melimpah jika dijalani dengan sabar, penuh tanggung jawab, dan kesadaran akan tujuan spiritualnya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Suatu hari Nabi Muhammad menggambarkan pemandangan yang mengejutkan di Hari Kebangkitan: seorang laki-laki datang membawa setumpuk amal baik setinggi gunung. Namun ketika ditanya, “Bagaimana engkau menghidupi keluargamu?” ia terdiam, tak mampu menjawab. Lalu semua amal baiknya dihapus, dan malaikat berkata: “Inilah orang yang keluarganya menelan semua perbuatan baiknya.”

Kisah itu adalah peringatan keras. Di balik semua keutamaan yang melekat pada pernikahan, seperti yang sudah panjang lebar dijelaskan dalam teks klasik Kimia Kebahagiaankarya Al-Ghazali, tersembunyi pula jebakan-jebakan yang tak kalah serius: beban ekonomi, pertarungan moral, bahkan ancaman kehilangan fokus spiritual.

Bahaya pertama: seorang suami yang mencari nafkah dengan cara yang haram. Nabi sendiri menegaskan: tak ada amal saleh yang cukup untuk menebus dosa itu. Bahaya kedua: memperlakukan keluarga dengan buruk. Nabi menyebut orang yang meninggalkan istri dan anak-anaknya tak ubahnya seperti budak yang melarikan diri. Ibadahnya ditolak sebelum ia kembali kepada keluarganya. Bagi mereka yang tidak sabar, tidak berakhlak baik, dan tidak mampu mengendalikan sifat-sifat rendah dalam dirinya, tanggung jawab keluarga bisa berubah menjadi bencana rohani.

Baca juga: Petuah Imam Al-Ghazali tentang Pernikahan sebagai Ibadah, Rahmat, dan Jalan Selamat ke Akhirat

Wali besar Bisyr Hafi memilih untuk tidak menikah. Ketika ditanya alasannya, ia mengutip ayat Qur’an: “Hak-hak wanita atas laki-laki sama dengan hak-hak laki-laki atas wanita.” Baginya, komitmen seperti itu terlalu berat untuk ia pikul.

Ada pula kerugian ketiga: keluarga, jika tidak hati-hati, bisa mengalihkan perhatian seseorang dari Allah. Al-Qur’an sudah memperingatkan: “Janganlah istri-istri dan anak-anakmu memalingkanmu dari mengingat Allah.” Karena itu para ulama sepakat: bagi yang khawatir kehilangan fokus pada akhirat, lebih baik sendiri; bagi yang khawatir terjerumus dalam dosa jika sendiri, lebih baik menikah.

Namun bagi mereka yang memilih untuk menikah, ada pula kriteria yang mesti diperhatikan. Pertama: akhlak istri. Istri yang buruk akhlaknya bisa menjerumuskan suami ke dalam fitnah, menodai nama baiknya, dan merusak ibadahnya. Nabi berkata: “Orang yang menikahi seorang perempuan hanya karena kecantikan atau kekayaannya akan kehilangan keduanya.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya