Seni Menjadi Suami Ajaran Imam Al-Ghazali: Antara Tegas dan Kasih
Miftah yusufpati
Kamis, 10 Juli 2025 - 16:30 WIB
Pernikahan, pada akhirnya, adalah sekolah panjang untuk belajar tentang bagaimana menyeimbangkan kasih sayang dan ketegasan. Ilustrasi: BFI Finance
LANGIT7.ID-Dalam salah satu hadits, Nabi Muhammad menasihati: “Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian kepada keluargaku.”
Kalimat itu merangkum sebuah seni tua: menjadi suami bukan hanya soal memberi nafkah atau memberi perintah, tetapi juga soal kesabaran, kelembutan, ketegasan, dan pengendalian diri.
Imam Al-Ghazali dalam Kimia Kebahagiaanmemaparkan enam hal penting yang seharusnya dilakukan seorang suami kepada istrinya. Enam hal ini menjelaskan mengapa perkawinan disebut sebagai “separuh agama” karena ia bukan hanya soal ibadah lahiriah, melainkan juga ujian batin yang berat.
Pertama: perlakukan pernikahan sebagai ibadah, bukan sekadar pemuasan nafsu. Nabi menyuruh Abdurrahman bin ‘Auf mengadakan walimah meski hanya dengan seekor kambing, dan beliau sendiri mengadakan pesta pernikahan sederhana dengan hidangan kurma dan gandum. Rebana dan musik dianjurkan untuk memeriahkan pernikahan, sebab manusia adalah mahkota penciptaan, bukan hewan yang bertemu tanpa makna.
Baca juga: Antara Rahmat dan Bahaya di Balik Pernikahan Menurut Imam Al-Ghazali
Kedua: bersabar terhadap tingkah laku istri. Nabi pernah bersabda bahwa orang yang sabar menghadapi gangguan istrinya mendapat pahala sebesar Nabi Ayyub yang sabar menghadapi cobaan. Bahkan di ranjang kematiannya Nabi masih berpesan: “Teruslah berdoa dan perlakukan istri-istrimu dengan baik, karena mereka adalah tawanan-tawananmu.”
Umar bin Khattab sendiri pernah ditegur istrinya di rumah, lalu berkata heran, “Berani sekali kau menjawabku?” Istrinya menjawab ringan: “Penghulu para nabi saja istrinya mendebatnya.” Umar pun tak jadi marah.
Kalimat itu merangkum sebuah seni tua: menjadi suami bukan hanya soal memberi nafkah atau memberi perintah, tetapi juga soal kesabaran, kelembutan, ketegasan, dan pengendalian diri.
Imam Al-Ghazali dalam Kimia Kebahagiaanmemaparkan enam hal penting yang seharusnya dilakukan seorang suami kepada istrinya. Enam hal ini menjelaskan mengapa perkawinan disebut sebagai “separuh agama” karena ia bukan hanya soal ibadah lahiriah, melainkan juga ujian batin yang berat.
Pertama: perlakukan pernikahan sebagai ibadah, bukan sekadar pemuasan nafsu. Nabi menyuruh Abdurrahman bin ‘Auf mengadakan walimah meski hanya dengan seekor kambing, dan beliau sendiri mengadakan pesta pernikahan sederhana dengan hidangan kurma dan gandum. Rebana dan musik dianjurkan untuk memeriahkan pernikahan, sebab manusia adalah mahkota penciptaan, bukan hewan yang bertemu tanpa makna.
Baca juga: Antara Rahmat dan Bahaya di Balik Pernikahan Menurut Imam Al-Ghazali
Kedua: bersabar terhadap tingkah laku istri. Nabi pernah bersabda bahwa orang yang sabar menghadapi gangguan istrinya mendapat pahala sebesar Nabi Ayyub yang sabar menghadapi cobaan. Bahkan di ranjang kematiannya Nabi masih berpesan: “Teruslah berdoa dan perlakukan istri-istrimu dengan baik, karena mereka adalah tawanan-tawananmu.”
Umar bin Khattab sendiri pernah ditegur istrinya di rumah, lalu berkata heran, “Berani sekali kau menjawabku?” Istrinya menjawab ringan: “Penghulu para nabi saja istrinya mendebatnya.” Umar pun tak jadi marah.