Islam dan Barat: Jalan yang Tak Bertemu di Persimpangan Moralitas
Miftah yusufpati
Jum'at, 11 Juli 2025 - 05:45 WIB
Kemajuan material Barat, seterang apapun kilauannya, dibangun di atas reruntuhan etika dan jiwa. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah gemuruh kemajuan material dan teknologi, Barat modern, dalam pengamatan Muhammad Asad, mengalami transformasi sosial yang dalam dan diam-diam tragis: moralitas kehilangan pondasi etikanya, diganti dengan nilai-nilai utilitarian yang tak menyisakan ruang bagi roh.
Asad dalam buku Islam di Simpang Jalan yang berjudul asli Islam at the Crossroads menelusuri bagaimana kehidupan sosial Barat kini bergerak berdasarkan satu prinsip utama: apakah sesuatu itu “berguna” secara material atau tidak.
Kebajikan dinilai bukan dari keluhuran moralnya, melainkan sejauh mana ia berkontribusi pada efisiensi sistem, pada kestabilan produksi, pada roda kapitalisme atau negara.
Nilai-nilai seperti cinta anak kepada orang tua, kesetiaan dalam perkawinan, atau kedekatan kekeluargaan menjadi luntur karena tak lagi memiliki nilai ekonomi langsung. Maka tak heran, kata Asad, ayah kehilangan kekuasaan, anak kehilangan respek. Keluarga—dulu benteng nilai—dijadikan reruntuhan oleh logika sosial yang mengutamakan jaringan produksi kolektif.
Demikian pula dengan disiplin seksual. Dulu, seks dikendalikan oleh etika. Sekarang, digantikan oleh kebebasan jasmani yang dijustifikasi oleh ilmu populasi dan genetika. Akibatnya, relasi kemanusiaan pun menjadi transaksional, dingin, teknokratik.
Baca juga:Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad
Komunisme dan Kapitalisme
Asad dalam buku Islam di Simpang Jalan yang berjudul asli Islam at the Crossroads menelusuri bagaimana kehidupan sosial Barat kini bergerak berdasarkan satu prinsip utama: apakah sesuatu itu “berguna” secara material atau tidak.
Kebajikan dinilai bukan dari keluhuran moralnya, melainkan sejauh mana ia berkontribusi pada efisiensi sistem, pada kestabilan produksi, pada roda kapitalisme atau negara.
Nilai-nilai seperti cinta anak kepada orang tua, kesetiaan dalam perkawinan, atau kedekatan kekeluargaan menjadi luntur karena tak lagi memiliki nilai ekonomi langsung. Maka tak heran, kata Asad, ayah kehilangan kekuasaan, anak kehilangan respek. Keluarga—dulu benteng nilai—dijadikan reruntuhan oleh logika sosial yang mengutamakan jaringan produksi kolektif.
Demikian pula dengan disiplin seksual. Dulu, seks dikendalikan oleh etika. Sekarang, digantikan oleh kebebasan jasmani yang dijustifikasi oleh ilmu populasi dan genetika. Akibatnya, relasi kemanusiaan pun menjadi transaksional, dingin, teknokratik.
Baca juga:Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad
Komunisme dan Kapitalisme