Islam Ala Prabowo: Pandangan Dua Tokoh NU-Muhammadiyah (1)
Sururi al faruq
Senin, 14 Juli 2025 - 16:20 WIB
Islam Ala Prabowo: Pandangan Dua Tokoh NU-Muhammadiyah (1)
LANGIT7.ID - Buku baru berjudul Islam Ala Prabowo (Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam) yang ditulis sejumlah tokoh termasuk para menteri serta pejabat di pemerintahannya, memberikan perspektif baru bagaimana Prabowo ber-Islam. Buku ini menjadi relevan karena hadir setelah Prabowo menjadi Presiden Indonesia, dimana publik yang masih merasa penasaran atas sejauh mana ke-Islaman Presiden, akan banyak mendapat perspektif baru dari buku ini.
Ada sejumlah tokoh dan pejabat penting yang menerjemahkan ke-Islaman Prabowo dalam buku ini, namun Langit7.id, memilih dua tulisan yang mewakili dari tokoh NU dan Muhammadiyah. Dua tokoh ini, yakni Prof Dr KH Said Aqil Siraj dan Prof Dr Abdul Mu'ti merepresentasikan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia sehingga sangat relevan dan otoritatif ketika memberikan perspektif ke-Islaman Prabowo.
Kali ini, Langit7.id menurunkan tulisan pertama dari Prof Dr KH Said Aqil Siraj yang cukup menarik untuk disimak. Menurut Kiai Said, "Prabowo Subianto tidak perlu mengklaim sebagai pemimpin dengan identitas Islamis, dan cukup menjadi pemimpin yang nasionalis karena sudah mencerminkan nilai-nilai Islam."
Kiai Said mengenal sosok Presiden Prabowo sebagai tokoh militer yang berjiwa nasionalis, yang memiliki sifat tabah dan mental yang kuat. Sifat ini ditunjukkan tatkala Prabowo tidak memberontak ketika menghadapi Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada 1998, dan justru menerima keputusan hukum tersebut dengan lapang dada.
Usai menghadapi keputusan Mahmilub, Prabowo mendatangi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Kiai Said turut mendampingi pertemuan kedua tokoh penting ini. Kiai Said menjadi saksi saat cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari mengatakan bahwa Prabowo akan menjadi presiden di masa tuanya. Gus Dur, kata Kiai Said, juga pernah menyatakan bahwa Prabowo merupakan figur yang paling ikhlas.
Pandangan Gus Dur terhadap Prabowo, menurut Kiai Said sangat tepat untuk menangkis isu miring tentang sepak terjang mantan Danjen Kopassus itu selama ini. Kiai Said yang juga menjadi wakil tim pencari fakta kasus kerusuhan 1998, dimana Ketua Tim adalah Marzuki Darusman, beranggotakan Hakim Garuda Nusantara, dan Bambang Wijoyanto mendapatkan kesimpulan bahwa Prabowo bukan dalang kerusuhan. Kiai Said juga menegaskan bahwa Prabowo sama sekali tidak ikut campur dalam kerusuhan 1998. Justru sebaliknya, Prabowo dijadikan tumbal oleh sejumlah jenderal dan akan disingkirkan dari posisinya sebagai Pangkostrad saat itu.
Hubungan Prabowo dengan Gus Dur memberikan bukti betapa dekatnya putra begawan ekonomi Prof Soemitro Djojohadikoesoemo itu dengan para ulama dan kalangan pesantren. Meski tidak memiliki atribut santri atau pun sebagai alumni pesantren, namun Prabowo memiliki kedekatan dengan para ulama dan banyak membantu kalangan pesantren.
Ada sejumlah tokoh dan pejabat penting yang menerjemahkan ke-Islaman Prabowo dalam buku ini, namun Langit7.id, memilih dua tulisan yang mewakili dari tokoh NU dan Muhammadiyah. Dua tokoh ini, yakni Prof Dr KH Said Aqil Siraj dan Prof Dr Abdul Mu'ti merepresentasikan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia sehingga sangat relevan dan otoritatif ketika memberikan perspektif ke-Islaman Prabowo.
Kali ini, Langit7.id menurunkan tulisan pertama dari Prof Dr KH Said Aqil Siraj yang cukup menarik untuk disimak. Menurut Kiai Said, "Prabowo Subianto tidak perlu mengklaim sebagai pemimpin dengan identitas Islamis, dan cukup menjadi pemimpin yang nasionalis karena sudah mencerminkan nilai-nilai Islam."
Kiai Said mengenal sosok Presiden Prabowo sebagai tokoh militer yang berjiwa nasionalis, yang memiliki sifat tabah dan mental yang kuat. Sifat ini ditunjukkan tatkala Prabowo tidak memberontak ketika menghadapi Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada 1998, dan justru menerima keputusan hukum tersebut dengan lapang dada.
Usai menghadapi keputusan Mahmilub, Prabowo mendatangi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Kiai Said turut mendampingi pertemuan kedua tokoh penting ini. Kiai Said menjadi saksi saat cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari mengatakan bahwa Prabowo akan menjadi presiden di masa tuanya. Gus Dur, kata Kiai Said, juga pernah menyatakan bahwa Prabowo merupakan figur yang paling ikhlas.
Pandangan Gus Dur terhadap Prabowo, menurut Kiai Said sangat tepat untuk menangkis isu miring tentang sepak terjang mantan Danjen Kopassus itu selama ini. Kiai Said yang juga menjadi wakil tim pencari fakta kasus kerusuhan 1998, dimana Ketua Tim adalah Marzuki Darusman, beranggotakan Hakim Garuda Nusantara, dan Bambang Wijoyanto mendapatkan kesimpulan bahwa Prabowo bukan dalang kerusuhan. Kiai Said juga menegaskan bahwa Prabowo sama sekali tidak ikut campur dalam kerusuhan 1998. Justru sebaliknya, Prabowo dijadikan tumbal oleh sejumlah jenderal dan akan disingkirkan dari posisinya sebagai Pangkostrad saat itu.
Hubungan Prabowo dengan Gus Dur memberikan bukti betapa dekatnya putra begawan ekonomi Prof Soemitro Djojohadikoesoemo itu dengan para ulama dan kalangan pesantren. Meski tidak memiliki atribut santri atau pun sebagai alumni pesantren, namun Prabowo memiliki kedekatan dengan para ulama dan banyak membantu kalangan pesantren.