Islam Ala Prabowo: Pandangan Dua Tokoh NU-Muhammadiyah (2)
Sururi al faruq
Selasa, 15 Juli 2025 - 08:32 WIB
Islam Ala Prabowo: Pandangan Dua Tokoh NU-Muhammadiyah (2)
LANGIT7.ID-Kedekatan Presiden Prabowo dengan kalangan ulama NU dan Muhammadiyah sangat beralasan. Karena, ulama NU, seperti KH Hasyim Asy'ari dikenal sangat reformis, penggiat reformasi sejati yang juga seorang kiai yang nasionalis tulen. Seperti halnya Presiden Prabowo yang selalu menjunjung tinggi dalam pribadinya sebagai nasionalis tulen.
KH Hasyim Asy'ari di masa penjajahan berani menolak ketidakadilan karena hanya memperuntukkan sekolah bagi kalangan elit, sedangkan pribumi tidak boleh sekolah. Penjajah tahu kalau pribumi tidak sekolah, mereka terus bodoh dan bisa terus dijajah.
Para pemimpin tidak menggunakan nama yang Islami, namun contoh peran mereka telah mencerminkan nilai nilai Islam. Islam Nusantara bukan madzhab, aliran, atau sekte baru yang berkembang di Indonesia, tetapi hanya tipologi Islam kita orang nusantara. Contohnya beduk itu tadinya alat musik, kemudian diterima oleh para alim ulama kegunaannya diganti menjadi salah satu alat untuk memanggil umat Islam di waktu sholat.
Islam Nusantara berkembang melalui jaringan ulama ahlus Sunnah Waljamaah. Mereka mendalami ilmunya sekaligus terlibat dalam kehidupan masyarakat di lingkungan masing masing. Islam Nusantara, menurut Kiai Said Aqil, adalah solusi untuk peradaban. Ciri menonjol dalam Islam Nusantara adalah Islam yang bisa menyatu dengan sosial masyarakat yang sudah ada. Maka tidak berlebihan bahwa Islam Nusantara menjadi wajah Indonesia.
Baca juga: Islam Ala Prabowo: Pandangan Dua Tokoh NU-Muhammadiyah (1)
Seandainya Islam di Indonesia ditransfer semua dari Arab, kata Kiai Said Aqil, akan menjadi bahaya.Bahkan kaum radikal ingin mentransfer konflik di Timur Tengah ke Indonesia. Entah apa yang terjadi di pikiran mereka jika perdamaian yang diupayakan selama ini tiba-tiba hancur, tentunya masyarakat harus paham dengan agenda seperti ini. Masyarakat harus bersikap tegas dalam melawan kelompok yang hanya membuat onar dan menyulut api permusuhan.
KH Hasyim Asy'ari di masa penjajahan berani menolak ketidakadilan karena hanya memperuntukkan sekolah bagi kalangan elit, sedangkan pribumi tidak boleh sekolah. Penjajah tahu kalau pribumi tidak sekolah, mereka terus bodoh dan bisa terus dijajah.
Para pemimpin tidak menggunakan nama yang Islami, namun contoh peran mereka telah mencerminkan nilai nilai Islam. Islam Nusantara bukan madzhab, aliran, atau sekte baru yang berkembang di Indonesia, tetapi hanya tipologi Islam kita orang nusantara. Contohnya beduk itu tadinya alat musik, kemudian diterima oleh para alim ulama kegunaannya diganti menjadi salah satu alat untuk memanggil umat Islam di waktu sholat.
Islam Nusantara berkembang melalui jaringan ulama ahlus Sunnah Waljamaah. Mereka mendalami ilmunya sekaligus terlibat dalam kehidupan masyarakat di lingkungan masing masing. Islam Nusantara, menurut Kiai Said Aqil, adalah solusi untuk peradaban. Ciri menonjol dalam Islam Nusantara adalah Islam yang bisa menyatu dengan sosial masyarakat yang sudah ada. Maka tidak berlebihan bahwa Islam Nusantara menjadi wajah Indonesia.
Baca juga: Islam Ala Prabowo: Pandangan Dua Tokoh NU-Muhammadiyah (1)
Seandainya Islam di Indonesia ditransfer semua dari Arab, kata Kiai Said Aqil, akan menjadi bahaya.Bahkan kaum radikal ingin mentransfer konflik di Timur Tengah ke Indonesia. Entah apa yang terjadi di pikiran mereka jika perdamaian yang diupayakan selama ini tiba-tiba hancur, tentunya masyarakat harus paham dengan agenda seperti ini. Masyarakat harus bersikap tegas dalam melawan kelompok yang hanya membuat onar dan menyulut api permusuhan.