Nabi Daniel: Meramal Kehadiran Isa al-Masih hingga Nabi Muhammad SAW
Miftah yusufpati
Jum'at, 18 Juli 2025 - 05:15 WIB
Nubuat tentang Muhammad yang terucap dari lidah Daniel, dari abad ke-6 SM. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Nama Nabi Daniel memang tidak tercantum dalam Al-Qur’an, namun diakui sebagai nabi oleh mayoritas ulama Islam. Ia disebut dalam banyak literatur tafsir klasik, riwayat Israiliyyat, dan juga kitab suci Yahudi dan Kristen. Sosoknya berada di persimpangan tiga tradisi agama samawi, dan nubuatnya dipercaya menjangkau dua zaman: kelahiran Isa bin Maryam dan diutusnya Muhammad SAW.
Daniel diyakini hidup pada abad ke-6 SM, ketika Yerusalem jatuh ke tangan Raja Nebukadnezar dari Babilonia. Bersama kaum Bani Israil lainnya, Daniel ditawan dan dibawa ke Babilonia. Tetapi statusnya sebagai tahanan tak menghalangi takdirnya: ia justru memperoleh kedudukan terhormat di istana raja. Ia dikenal sebagai orang yang bijaksana, ahli tafsir mimpi, dan penyampai wahyu.
Kisahnya yang paling masyhur adalah saat ia dilemparkan ke kandang singa oleh penguasa zalim karena menolak menyembah berhala. Allah menyelamatkannya; singa-singa itu justru duduk jinak di sisinya. Dalam riwayat Islam, Nabi Irmiya (Jeremiah) mendatanginya di kandang itu, membawakannya makanan dan minuman atas perintah Allah.
Ibnu Taimiyah mencatat nubuat Daniel yang menyebut nama Muhammad secara gamblang: “Anak-anak panah akan terlepas dari busur-busur, dan anak-anak panah itu akan dinodai darah, wahai Muhammad,” demikian potongan nubuat itu. Nubuat tentang kemunculan Isa al-Masih pun diakui, sejalan dengan tradisi Nasrani.
Baca juga: Nabi Khidir: Guru Nabi Musa di Persimpangan Dua Lautan
Nama Daniel muncul juga dalam sejarah ekspedisi Islam ke Persia. Pasukan muslim menemukan jasad yang utuh — tak dimakan tanah, tak membusuk — di dekat kota Hurmuzan. Pemimpin pasukan, Abu Musa al-Asy’ari, menulis surat kepada Khalifah Umar bin Khattab. Umar menjawab: “Ia adalah salah satu nabi. Api tidak memakan jasad para nabi, dan bumi tidak memakan jasad para nabi.”
Untuk mencegah praktik pengultusan kubur, jasad Daniel kemudian dikubur kembali di dasar sungai pada malam hari oleh Abu Musa dan pasukan muslim.
Daniel diyakini hidup pada abad ke-6 SM, ketika Yerusalem jatuh ke tangan Raja Nebukadnezar dari Babilonia. Bersama kaum Bani Israil lainnya, Daniel ditawan dan dibawa ke Babilonia. Tetapi statusnya sebagai tahanan tak menghalangi takdirnya: ia justru memperoleh kedudukan terhormat di istana raja. Ia dikenal sebagai orang yang bijaksana, ahli tafsir mimpi, dan penyampai wahyu.
Kisahnya yang paling masyhur adalah saat ia dilemparkan ke kandang singa oleh penguasa zalim karena menolak menyembah berhala. Allah menyelamatkannya; singa-singa itu justru duduk jinak di sisinya. Dalam riwayat Islam, Nabi Irmiya (Jeremiah) mendatanginya di kandang itu, membawakannya makanan dan minuman atas perintah Allah.
Ibnu Taimiyah mencatat nubuat Daniel yang menyebut nama Muhammad secara gamblang: “Anak-anak panah akan terlepas dari busur-busur, dan anak-anak panah itu akan dinodai darah, wahai Muhammad,” demikian potongan nubuat itu. Nubuat tentang kemunculan Isa al-Masih pun diakui, sejalan dengan tradisi Nasrani.
Baca juga: Nabi Khidir: Guru Nabi Musa di Persimpangan Dua Lautan
Nama Daniel muncul juga dalam sejarah ekspedisi Islam ke Persia. Pasukan muslim menemukan jasad yang utuh — tak dimakan tanah, tak membusuk — di dekat kota Hurmuzan. Pemimpin pasukan, Abu Musa al-Asy’ari, menulis surat kepada Khalifah Umar bin Khattab. Umar menjawab: “Ia adalah salah satu nabi. Api tidak memakan jasad para nabi, dan bumi tidak memakan jasad para nabi.”
Untuk mencegah praktik pengultusan kubur, jasad Daniel kemudian dikubur kembali di dasar sungai pada malam hari oleh Abu Musa dan pasukan muslim.