home masjid

Rahasia Politeisme: Tuhan-Tuhan yang Tenggelam

Rabu, 23 Juli 2025 - 16:30 WIB
Manusia modern mungkin tidak lagi menyembah batu atau bintang, tetapi tetap banyak yang menaruh harap pada Tuhan-tuhan kecil seperti materi, kekuasaan, atau teknologi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di padang pasir itu, malam begitu pekat. Bintang Venus menggantung rendah di cakrawala, memancarkan cahayanya. Para pemuja bintang di sekelilingnya sudah menunduk, komat-kamit mengagungkan sang bintang yang mereka anggap penguasa langit. Namun seorang pemuda berdiri diam, pandangannya jauh menembus langit: “Itu pemeliharaku,” ujarnya pelan.

Namun tak lama kemudian, bintang itu meredup dan tenggelam di balik cakrawala. Ia menggeleng, “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

Begitulah Ibrahim, sang nabi yang menjadi simbol perjuangan tauhid, melawan keyakinan kaumnya yang terpecah-pecah pada Tuhan-tuhan kecil yang fana.

Menurut catatan Ja‘far Subhani dalam bukunya Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW (Subhani, 2013:50–69), orang Arab sebelum Islam memandang setiap fenomena — hujan, gempa bumi, kelahiran, kematian, bahkan damai dan perang — masing-masing memiliki dewa sendiri. Tak satu pun yang mereka yakini berada di bawah kendali satu Tuhan yang Esa. Alam semesta bagi mereka adalah sekumpulan makhluk dan fenomena yang berdiri sendiri, tanpa keterkaitan.

“Mereka tak menyadari bahwa seluruh alam semesta adalah suatu kesatuan, di mana bagiannya saling terkait dan mempunyai efek timbal balik,” tulis Subhani.

Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim: Lembah Tujuh Tempat Kambing Membawa Air Kembali

Cara pandang itu muncul karena pengetahuan manusia kala itu masih bersahaja, belum memahami hukum-hukum sebab-akibat yang mengatur jagat raya. Akibatnya, mereka membayangkan Tuhan yang Esa pun tidak mampu menciptakan dan mengendalikan semuanya sendirian.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya