home masjid

Kisah dari Hadis: Kayu, Laut, dan Janji di Atas Nama Allah

Kamis, 24 Juli 2025 - 04:15 WIB
Sebatang kayu hanyut di laut, menjadi saksi, bahwa janji kepada Allah tak pernah tenggelam. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sebatang kayu biasa, hanyut di lautan. Bagi nelayan, mungkin hanya sampah yang terseret arus. Bagi seekor burung laut, mungkin sekadar tempat hinggap sebelum terbang lagi. Tapi bagi dua lelaki Bani Israil ribuan tahun lalu, sepotong kayu itu adalah simbol paling tulus dari sebuah janji kepada Tuhan — janji yang tak pernah terputus.

Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu anhu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menceritakan tentang dua lelaki dari Bani Israil yang terlibat perjanjian utang piutang. Satu orang meminjam seribu dinar kepada yang lain. Sebelum menyerahkan uang, si pemberi pinjaman sempat ragu. Ia minta saksi. Si peminjam menjawab, “Cukuplah Allah sebagai saksi.” Ia minta jaminan, dan dijawab lagi, “Cukuplah Allah sebagai penjamin.”

Jawaban yang terdengar nekad. Tapi keimanan yang bercahaya di balik kata-kata itu membuat si pemberi pinjaman luluh. Uang pun berpindah tangan, dengan masa jatuh tempo tertentu. Tak ada tanda tangan, tak ada surat bermaterai, hanya iman dan keyakinan kepada Tuhan sebagai saksi dan penjamin.

Beberapa waktu kemudian, si peminjam pergi berlayar untuk sebuah urusan. Waktu jatuh tempo tiba. Ia bergegas mencari kapal untuk pulang melunasi utang, tapi laut seperti sedang bercanda: tak ada satu perahu pun yang mau membawanya.

Baca juga: Kisah Humor Sufi: Jubah Nasrudin Hoja yang Jatuh

Tak ingin mengingkari janji, ia mengasah akalnya. Sebuah kayu ia ambil, dilubangi, lalu seribu dinar beserta secarik surat ia masukkan ke dalamnya. Lubang itu ia tutup rapat. Berdiri di pantai, ia memandang laut lepas dan berdoa, “Ya Allah, Engkau tahu aku meminjam seribu dinar kepada fulan. Aku berkata ‘Cukuplah Allah sebagai saksi,’ dan ia ridha. Aku berkata ‘Cukuplah Allah sebagai penjamin,’ dan ia pun ridha. Kini aku tidak menemukan kapal untuk pulang. Maka aku titipkan uang ini kepada-Mu.”

Kayu itu dilemparkan. Terombang-ambing, tak jelas arahnya. Hanyut ke samudra dengan pesan yang hanya Allah yang tahu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya