home masjid

Menelusuri Akar Historis dan Rasionalitas Ilmu Kalam dari Fitnah Besar hingga Hellenisme

Selasa, 29 Juli 2025 - 04:15 WIB
Kalam adalah pembicaraan. Tapi bukan sembarang bicara. Ia adalah suara akal yang berusaha memahami langit, sembari berpijak di bumi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sama seperti ilmu fikih dan tafsir yang baru dikodifikasi puluhan tahun setelah Nabi Muhammad wafat, Ilmu Kalam—disiplin rasional dalam Islam yang berurusan dengan teologi dan doktrin keimanan—juga tumbuh secara perlahan. Namun berbeda dari ilmu-ilmu lain, Kalam lahir dalam pusaran sejarah berdarah umat Islam: pembunuhan Khalifah ketiga, Utsman bin Affan, pada tahun 656 M.

Prof. Dr. Nurcholish Madjid dalam "Islam: Doktrin dan Peradaban" (Paramadina, 1995) menyebut peristiwa itu memicu skisma besar yang oleh sejarawan Islam disebut sebagai al-Fitnat al-Kubra yakni fitnah besar yang tak hanya membelah komunitas Muslim, tapi juga menyalakan api pertarungan akidah yang berabad-abad kemudian dirumuskan dalam bingkai Ilmu Kalam.

Di sanalah Kalam menemukan nadi historisnya. Ia bukan sekadar ilmu yang mengabstraksi Tuhan, manusia, dan takdir; ia adalah reaksi umat terhadap prahara sejarah yang mengguncang sendi-sendi legitimasi kekuasaan Islam. Ketika darah Khalifah tumpah dan para pelakunya mengajukan dalih teologis, Kalam pun mulai mengakar: akal dijadikan alat untuk membenarkan iman—atau membongkarnya.

“Peristiwa menyedihkan dalam sejarah Islam yang sering dinamakan al-Fitnat al-Kubra merupakan pangkal pertumbuhan masyarakat (dan agama) Islam di berbagai bidang, khususnya bidang-bidang politik, sosial dan paham keagamaan,” tulis Cak Nur.

Baca juga: Akal Bertemu Wahyu: Menelisik Peran Ilmu Kalam dalam Khazanah Pemikiran Islam Klasik

Dalam literatur klasik, Kalam sering diterjemahkan sebagai "pembicaraan". Tapi pembicaraan dalam konteks ini bukan sekadar obrolan, melainkan diskursus yang terstruktur secara rasional, menyerap tradisi logika Yunani yang dikenal dengan logos. Dalam Islam, istilah logos ini diterjemahkan menjadi kalam, dan dalam bentuk ilmu menjadi ‘Ilm al-Kalam, ilmu yang berpikir tentang Tuhan dan keimanan melalui logika.

Ilmu Kalam tumbuh dari pertanyaan mendasar: siapa yang benar dan siapa yang salah dalam konflik politik umat Islam pertama? Ketika Utsman dibunuh karena dianggap melakukan dosa besar—yaitu nepotisme dan penyimpangan dalam mengelola negara—para pemberontak menyusun pembenaran teologis: dosa besar adalah bentuk kekafiran, dan orang kafir halal darahnya. Maka, membunuh Utsman menjadi sah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya