home masjid

Al-Qur’an Menjawab Perdebatan Asal Usul Manusia dengan Nuansa Prioritas dan Spirit Ilmiah

Ahad, 03 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Membaca ulang gagasan tentang produksi dan reproduksi manusia dalam cahaya tafsir tematik membuka peluang bagi rekonsiliasi antara wahyu dan sains. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID - Adam diciptakan dari tanah. Begitu keterangan singkat dan padat yang diulang dalam sejumlah ayat Al-Qur’an. Namun, ketika berbicara tentang reproduksi manusia secara umum, Al-Qur’an menggunakan diksi berbeda: "Kami menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya" (QS At-Tin: 4).

Peralihan dari kata ganti tunggal "Aku" saat menggambarkan penciptaan Adam (QS Shad: 71 dan 75), ke bentuk jamak "Kami" ketika menjelaskan kelahiran manusia pada umumnya, bukan sekadar variasi bahasa. Ia mengandung makna metodologis dan filosofis: Tuhan tidak menciptakan manusia sekarang sebagaimana menciptakan Adam.

Prof Dr M Quraish Shihab, dalam bukunya "Wawasan Al-Qur’an" (Mizan), membedakan dua kategori penciptaan: penciptaan khusus (Adam) dan penciptaan umum (kita semua). Adam tidak memiliki ayah atau ibu, sementara manusia masa kini adalah hasil keterlibatan biologis dua orang tua. Dengan demikian, proses kejadian kita bersifat “kooperatif” — ada kontribusi genetik, fisik, bahkan psikologis dari ayah dan ibu, sebelum akhirnya Tuhan meniupkan ruh ke dalamnya.

Tapi di sinilah debat klasik muncul kembali: bagaimana dengan proses awal kejadian Adam? Al-Qur’an tidak menjabarkannya secara rinci. Yang jelas, “dari tanah, kemudian ditiupkan ruh”. Selebihnya tahap antara tanah dan ruh adalah ruang tafsir.

Baca juga: Maurice Bucaille: Asal Usul Perjanjian Lama dan Tradisi Lisan

Teori evolusi yang dikembangkan Charles Darwin pada abad ke-19 sebenarnya bukan barang asing dalam sejarah pemikiran Islam. Sebelum Darwin lahir, sudah muncul pemikir-pemikir Muslim yang mengemukakan teori serupa. Al-Farabi, Ibnu Miskawaih, Muhammad bin Syakir al-Kutubi, hingga Ibnu Khaldun, semuanya pernah menyinggung gagasan evolusi atau perkembangan bertahap makhluk hidup, termasuk manusia. Mereka tidak menolak keteraturan biologis, dan tetap menempatkan Tuhan sebagai aktor utama.

Gagasan ini diamini oleh Muhammad Abduh, reformis asal Mesir. Dalam tafsirnya, ia menyatakan bahwa bila teori Darwin terbukti secara ilmiah, tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang menentangnya secara eksplisit. Al-Qur’an hanya menjelaskan awal, akhir, dan titik penting penciptaan. Tapi mengenai proses-proses di antaranya, kitab suci ini tidak membeberkan secara detail, memberikan ruang bagi ijtihad ilmiah untuk mengisinya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya